Bagaimana Sikap Kita Terhadap Mertua Yang Tidak Suka Ke Kita ?

Pertanyaan  

bagaimna agar kita bsa ikhlas memaafkn mertua yg sudah menjelek2kan kita kepada keluarganya(dari keluarga suami) jd keluarga suami pada musuhin saya. Rasanya saya masih belum ikhlas untuk memaafkan karena rasanya begitu sakit dan susah untuk dilupakän padahal sudah lama

Jawaban
Ustadz Fauzi Bahresy, Ss

Assalamu alaikum wr wb

Mertua adalah orang tua kedua. Berlaku baik kepada mertua adalah salah satu bentuk berlaku baik pada pasangan, dalam hal ini suami. Karena itu betapapun mertua telah menjelek-jelekkan Anda, kita tetap harus menunjukkan sikap baik dan mulia kepada mereka.

 

Di antara sikap yang bisa  dilakukan dalam kondisi seperti yang Anda sebutkan di atas adalah:

 

Pertama, bertanya dan mengklarifikasi mengapa mertua melakukan hal seperti yang Anda tuduhkan. Barangkali hal itu dilakukan karena tidak mengetahui informasi dan keadaan yang sebenarnya. Di satu sisi tabayyun itu penting (lihat QS al-Hujurat 6.) namun di sisi lain memberikan klarifikasi agar orang tidak berprasangka buruk juga penting.

 

Kedua, memberikan nasihat kepada mertua baik secara langsung maupun tidak langsung bahwa tindakan menuduh dan menjelekkan orang lain adalah sangat buruk dan jahat.  Dalam Islam saling memberi dan menerima nasihat merupakan bentuk kewajiban agama yang harus dilakukan sesuai kadar kemampuan (lihat QS al-ashr). Bahkan Nabi saw bersabda, “Agama adalah nasihat.”

 

Ketiga, memaafkan sikap mertua di atas dengan tulus dan lapang. Pasalnya kondisi seperti yang Anda rasakan bisa jadi merupakan cara Allah untuk memuliakan hamba.

 

Sebab ketika bisa bersabar, pahala Allah akan diberikan tanpa batas seperti bunyi QS az-Zumar ayat 10.  Ketika bersabar dan memaafkan Allah juga akan memberi maaf.

 

Dalam Alquran tepatnya surat an-Nur disebutkan kisah tentang Aisyah ra yang difitnah dan dituduh oleh kalangan munafik telah melakukan perbuatan tak pantas dengan Shafwan ra.

Fitnah itu tersebar. Banyak kaum mukmin yang ikut percaya dan bahkan menyebarluaskannya. Termasuk Misthah ra, kerabat Abu Bakar ra yang selama ini diberi nafkah oleh Abu Bakar.

 

Sebagai manusia, Abu Bakar ra marah. Kebaikannya dibalas dengan sikap tidak terpuji. Maka, beliau bersumpah untuk tidak lagi memberikan nafkah kepada Misthah ra. “Demi Allah, aku tidak akan memberikan nafkah kepada Misthah,” begitu ujar beliau. Namun turun ayat Alquran yang menegur Abu Bakar ra,

 

“Hendaknya orang-orang yang Allah beri keutamaan dan kelapangan di antara kalian tidak bersumpah untuk tidak memberi kepada karib kerabat, fakir miskin, dan orang yg berhijrah di jalan Allah. Hendaknya mereka memaafkan dan berlapang dada. Bukankah kalian ingin Allah mengampuni kalian?! Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS an-Nur 22)

 

Keempat, terus menujukkan sikap baik kepada mertua insya Allah suatu saat akan meluluhkan hatinya. Sebab manusia adalah tawanan kebaikan.

 

Semoga Allah memberikan taufik dan memberikan jalan keluar terbaik. Wallahu a’lam