Suami Jarang ke Mesjid dengan Alasan Sibuk Bekerja

Pertanyaan  

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh,

Suami saya dulu aktif dalam kegiatan dakwah, namun kini beliau tidak mau lagi mengikuti pengajian, ibadah beliau juga menurun. Tidak pernah ke masjid lagi kecuali sholat Jumat, alasannya karena sibuk di serikat dan kerja. Mohon arahan nya apakah yang harus saya lakukan.

Jawaban
Ustadz Fauzi Bahresy, SS.

Waalaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh,

Kami ikut merasa prihatin dengan kondisi yang dialami oleh suami Anda.

Seperti yang kita ketahui bahwa masjid merupakan tempat yang paling Allah cintai. Dalam hadits disebutkan:

‎عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ :أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدهَا ، وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقهَا. أخرجه مسلم (1473) وابن خزيمة 1293 وابن حبان1600 .

 “Abu Hurayrah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Tempat yang paling Allah cintai adalah masjid. Sementara tempat yang paling Allah benci adalah pasar’” (HR Muslim, Ibn Khuzaymah, dan Ibnu Hibban).

Karena masjid merupakan tempat terbaik di muka bumi, umat Islam diperintahkan untuk senantiasa memakmurkannya. Menunaikan shalat secara berjamaah di masjid bagi laki-laki adalah bukti keimanan.

 

‎ إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَتَعَاهَدُ الْمَسْجِدَ، فَاشْهَدُوا لَهُ بِالْإِيمَانِ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ

“Bila kalian melihat seseorang rajin ke masjid, persaksikanlah bahwa ia orang beriman…”

 

Tidak ada alasan bagi orang yang beriman, sehat, dan kuat untuk tidak datang ke masjid. Sebab orang yang buta sekalipun tetap Nabi suruh untuk ke masjid.

‎عَنْ أَبِي رَزِينٍ ، عَنِ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ ، قَالَ:جِئْتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ، كُنْتُ ضَرِيرًا ، شَاسِعَ الدَّارِ ، وَلِي قَائِدٌ لاَ يُلاَئِمُنِي ، فَهَلْ تَجِدُ لِي رُخْصَةً أَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِي ؟ قَالَ : أَتَسْمَعُ النِّدَاءَ ؟ قَالَ : قُلْتُ : نَعَمْ ، قَالَ : مَا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً. أخرجه أحمد 3/423(15571) و\”أبو داود\”552 و\”ابن ماجة\”792 و\”ابن خزيمة\”1480 الألباني ، صحيح أبي داود ( 561 و 562).

Diriwayatkan dari Ibnu Ummi Maktum ra . Ia berkata, “Aku mendatangi Rasulullah saw. Lalu aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, aku buta, rumah jauh, dan tidak ada yang menuntunku ke masjid. Adakah rukhsah bagiku untuk shalat di rumah?” Beliau balik bertanya, “Apakah engkau mendengar azan?” “Ya,” jawabku. Kemudian beliau bersabda, “Kalau begitu, tidak ada rukhsah bagimu.”

(HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Huzaimah)

 

Berdasarkan hadits di atas dan banyak hadits yang lain, shalat berjamaah adalah satu syiar ibadah yang tidak boleh ditinggalkan kecuali ada udzur syar’i.

 

Nah kembali kepada kondisi suami, hendaknya Anda sebagai isteri berusaha tanpa kenal lelah untuk melakukan langkah-langkah yang bisa menyadarkan suami. Agama mengajarkan kita untuk saling menasihat, saling mengingatkan, dan saling memotivasi pada kebaikan. Hal ini seperti yang disebutkan dalam surat at-Taubah: 71

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya : “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

dan surat al-Ashr 1-3.

 

Bahkan upaya untuk mengingatkan keluarga harus dilakukan dengan penuh kesabaran. Allah befirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (QS Thaha: 132)

 

Harus diingatkan pula bahwa kesibukan dalam bekerja dan mencari nafkah tidak boleh melalaikan dari mengingat Allah (Lihat QS al-Munafiqun: 9). Jangan sampai kesibukan mencari rezeki melupakan Zat Pemberi rezeki (Allah)

 

Dalam hal ini langkah praktis yang bisa dilakukan untuk menyadarkan suami adalah:

  • Menasihati secara langsung dengan cara yang bijak dan penuh hikmah
  • Memperdengarkan ceramah dan nasihat para ustadz.
  • Mengajak dan memotivasi untuk berkumpul dengan orang-orang salih yang aktif dalam dakwah.
  • Terus mendoakan agar diberi hidayah dan taufik untuk semangat dalam melakukan aktivitas kebaikan.

 

Semoga Allah memberikan kemudahan.