SHU koperasi dan Hukum Gadai dalam Islam

Pertanyaan  

Assalamualaikum, Ustadz. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan.

  1. Bagaimana Islam memandang SHU atau pembagian hasil usaha penjualan barang pada koperas, jasa modal, dan jasa anggota?
  2. Bagaimana hukum gadai syariah?
  3. Jika punya utang terhadap orang dan lembaga, tetapi lupa jumlahnya dan sulit mencari orang tersebut, apakah bisa jika membayar utang dengan menyedekahkan uangnya dengan niat sedekah atas nama fulan pemilik uang tersebut?

Jawaban
Ustadz DR. Oni Sahroni, MA

Waalaikumussalam.

Jika praktik koperasi tersebut konvensional, transaksi antara pemilik simpanan pokok, simpanan wajib, dan simpanan sukarela dengan manajemen adalah pinjaman berbunga, begitu pula transaksi antara manajemen dengan pihak ketiga (anggota atau pemanfaat dana) adalah pinjaman berbunga. SHU yang dibagikan kepada anggota adalah pinjaman berbunga karena bunga tetap tersebut adalah manfaat yang disyaratkan oleh kreditor atau pembeli simpanan pokok, simpanan wajib, dan sukarela. Oleh karena itu, manajemen koperasi dan anggota koperasi serta pihak yang terlibat wajib untuk mengonversi koperasi agar sesuai syariah walaupun konversi dan perubahan itu tidak bisa dilakukan sekaligus, tetapi bertahap.

Gadai diperkenankan dalam Islam untuk memastikan kemampuan finansial pembeli atau debitur. Apabila ada A menjual secara tidak tunai kepada B, A berhak untuk meminta jaminan atau gadai. Gadai dilakukan agar pihak penjual atau kreditor aman sehingga apabila terjadi gagal bayar, jaminan tersebut bisa dieksekusi oleh kreditor untuk menutup sisa angsuran pembeli.

Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah,

لاَ يُغْلَق الرَّهْنُ مِنْ صَاحِبِهِ الَّذِيْ رَهَنَهُ، لَهُ غُنْمُهُ وَعَلَيْهِ غُرْمُهُ

Artinya: Tidak terlepas kepemilikan barang gadai dari pemilik yang menggadaikannya. Ia memperoleh manfaat dan menanggung risikonya. (HR. Al-Syafi’i, al-Daraquthni dan Ibnu Majah).

dan sebagaimana firman Allah,

وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَىٰ سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ

Artinya: “Dan apabila kamu dalam perjalanan sedang kamu tidak memperoleh seorang juru tulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang …”. (QS. Al-Baqarah [2]: 283)

 

Jika punya kewajiban terhadap pihak atau seseorang yang setelah beberapa waktu tidak diketahui tempat dan wujudnya, diperkenankan untuk bersedekah. Akan tetapi, jika pihak tersebut datang kembali menagih haknya, sedekah tidak menggugurkan kewajiban. Oleh karena itu, apabila orang atau entitasnya ada, wajib untuk memenuhi kewajibannya terhadap orang tersebut. Wallahu A’lam.