Muslim Masuk Neraka Apakah Kekal di Dalamnya ?

Pertanyaan  

Assalamualaikum, ustadz Kami mendapatkan postingan Bahwa “Seorang muslim yang masuk neraka kekal selamanya.”

Pertanyaannya …Benarkah kekal selamanya ??? Bukankah selagi ia meng Esa kan Allaah..dia masuk surga..meskipun disiksa dulu di neraka ? Benarkah menafsirkan surat An Nisa spt di atas…bhw kekal selamanya di neraka ?

Jawaban
Ustadz Farid Nu'man, SS

Waalaikumussalam,

Bismillahirrahmanirrahim ..

 

Seorang muslim, selama masih dikatakan muslim, walau dia membuat dosa sebesar apa pun selama dia tidak melakukan dosa besar yang membuatnya keluar dari Islam, maka dia tetap muslim.

 

Maka, jika dia tetap muslim, maka tidak ada istilah “kekal di neraka”, sebab kekal di neraka hanyalah bagi orang-orang kafir dan munafiq.

 

Allah Ta’ala berfirman:

 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

 

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa’, Ayat 48)

 

Ayat ini menerangkan salah satu sebab kekafiran, yaitu melakukan kesyirikan besar. Selama dia belum bertobat, lalu dia wafat maka Allah Ta’ala tidak akan mengampuninya. Tapi, jika sempat bertobat Allah Ta’ala akan mengampuninya.

 

Begitu pula mereka yang melakukan dosa SELAIN SYIRIK. Lalu dia wafat, maka orang ini di bawah kuasa penuh Allah Ta’ala ( tahta masyiatillah); Allah akan ampuni dia dan masukkan ke surga sesuai Rahmat dan RahimNya yang luas lagi sempurna, ataukah Allah Ta’ala akan siksa dia dulu sesuai keadilanNya sejauh kadar dosanya, lalu dimasukkan ke dalam surga. Intinya, tidak ada “kekal di neraka”, bagi yang masih muslim, sebesar apa pun dosanya.

 

Hal ini juga berdasarkan hadits berikut:

 

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُدْخِلُ اللَّهُ أَهْلَ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ بِرَحْمَتِهِ وَيُدْخِلُ أَهْلَ النَّارِ النَّارَ ثُمَّ يَقُولُ انْظُرُوا مَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجُوهُ فَيُخْرَجُونَ مِنْهَا حُمَمًا قَدْ امْتَحَشُوا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهَرِ الْحَيَاةِ أَوْ الْحَيَا فَيَنْبُتُونَ فِيهِ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ إِلَى جَانِبِ السَّيْلِ أَلَمْ تَرَوْهَا كَيْفَ تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً

 

Dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah memasukkan penduduk surga ke surga, Dia memasukkan siapa pun yang Dia kehendaki dengan rahmatNya, dan memasukkan penduduk neraka ke neraka. Kemudian Allah berfirman: ‘Lihatlah oleh kalian, siapa yang kalian dapati dari mereka terdapat sebiji sawi keimanan dalam hatinya maka keluarkanlah.’ Lalu mereka dikeluarkan dari neraka dalam keadaan hangus terbakar. Mereka telah terbakar, lalu dilemparkan ke sungai kehidupan, atau hidup. Lalu mereka tumbuh sebagaimana benih tumbuh di sisi buih. Tidakkah kalian melihat bagaimana dia keluar kuning bengkok.” (HR. Muslim no. 184)

 

Tapi, apakah ada muslim yang kekal abadi di neraka?

 

Di atas sudah dijelaskan, seseorg yg masih disebut muslim, tidak akan kekal abadi di neraka, dia akan tetap surga.

 

Namun, bagi muslim yang  melakukan satu  perbuatan, atau perkataan, atau keyakinan, yang membuatnya murtad, maka gugur keislamannya, dan dia keluar dari Islam, maka terhapus amalnya dan dia kekal abadi dineraka.

 

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

 

“Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah, Ayat 217)

 

Nah, ayat ini jelas menceritakan tentang hukuman orang murtad dr Islam yang belum bertobat, lalu dia wafat, maka semua amal kebaikannya terhapus dan dia kekal abadi di neraka.

 

Orang murtad ada dua model; orang yg terang-terangan mengaku murtad, dan orang yang tidak mengaku murtad tapi perbuatan, perkataan, atau keyakinannya sudah masuk area murtad, walau dirinya tidak menyadarinya.

 

Di sini, kita tidak akan membahas hal apa saja yang membuat teranulir keislaman seseorang (Nawaqidh al Islam), tapi kita akan batasi sesuai yang ditanya oleh saudara penanya, yaitu Mengingkari Penerapan Faraidh-nya Islam.

 

Menerapkan hukum waris Islam adalah WAJIB, dan Mengingkarinya adalah Kafir

 

Kewajiban hal ini telah diketahui bersama, istilahnya al ma’lum ninad diin budh dharuriy, yaitu hal yang aksiomatik dalam Islam. Maka, sengaja mengingkari kewajiban menjalankan syariat warisan adalah kekafiran.  Jadi, kata kuncinya adalah MENGINGKARI kewajibannya.

 

Syaikh Abdullah Al Qadiriy Al Ahdal berkata:

 

أما الحكم على من أنكر ركنا من أركان الإيمان أومن أركان الإسلام، فليس بخاف على صغار طلبة العلم أنه يكون مرتدا، إذا كان من المسلمين،بل إن من أنكر حكما من أحكام الإسلام معلوما من الدين بالضرورة، كتحريم الربا، أو الخمر، أو الزنى، فإنه يكون مرتدا، فكيف بمن أنكر ركنا من أركان الإيمان؟!

 

Hukum mengingkari salah satu rukun Iman atau rukun Islam maka tidak samar lagi bagi para penuntut ilmu bahwa itu adalah murtad jika dilakukan oleh kaum muslimin, bahkan jika  mengingkari hukum-hukum Islam yang telah pasti haramnya seperti khamr, riba, zina, maka itu murtad, maka bagaimana dengan yang  mengingkari rukun Iman?

 

(https://www.saaid.net/Doat/ahdal/00026.htm)

 

Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al Jazaairiy Rahimahullah menjelaskan salah satu sebab yang membuat murtad:

 

كل من جحد فريضة من فرائض الشرع المجمع عليها وكالصلاة أو الزكاة أو الصيام أو الحج أو بر الوالدين أو الحهاد مثلا فقد كفر

 

Siapa pun yang mengingkari sebuah kewajiban diantara kewajiban-kewajiban syariat yang telah disepakati, seperti shalat atau zakat atau shaum atau haji atau berbakti kepada kedua orang tua atau jihad misalnya, maka dia kafir. (Minhajul Muslim, Hal. 379)

 

Jadi, jika tidak mau menerapkan hukum waris karena mengingkari kewajibannya, apalagi sampai menuduhnya tidak adil, mendustakannya, dan menganggap akal sendiri lebih adil, maka ini murtad menurut ijma’ (konsensus) ulama.

 

Al Qadhiy ‘Iyadh Rahimahullah mengatakan:

 

وأما الآن فقد وقع الإجماع أنه من جحد فريضة من الفرائض فهو كافر

 

Ada pun saat ini telah terjadi ijma’ bahwa orang yang mengingkari satu kewajiban di antara kewajiban-kewajiban agama maka dia kafir.

 

(Ikmal Al Mu’lim, 1/244)

 

Maka, apa yang tertulis pada postingan di atas, yaitu jika seseorang mengingkari syariat faraidh (warisan), dan menuduh syariat tersebut  tidak adil, adalah maka dia murtad dan pelakunya diancam kekal abadi di neraka, adalah benar adanya dan sesuai dengan keterangan Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’. Sebab pengingkaran tersebut, apalagi tuduhan syariat tersebut tidak adil, adalah sama juga menyerang Allah Ta’ala. Mengaku percaya dan yakin kepada Allah Ta’ala tapi menuduh Allah Ta’ala tidak adil, mengingkari hukumNya, adalah keyakinan yang palsu lagi dusta.

 

Tapi, bagi yang tidak menjalankan syariat warisan dalam Islam bukan karena mengingkari, bukan pula menuduh tidak adil, tapi karena kebodohan, tidak paham, atau tidak berdaya karena dipaksa oleh budaya, .. maka mereka masih muslim, tidak boleh  dikatakan kafir. Mereka hatus dididik, diajarkan, dipahamkan, sampai mereka tunduk dan patuh atas syariat Allah Ta’ala dalam hal warisan. Tapi, setelah diajarkan dan dipahamkan mereka justru melawan, mengingkari, menuduh, dan mendustakan, maka jatuhlah hukum kafir kepada mereka.

 

Semoga bisa dipahami .., mengesakan Allah Ta’ala itu bukan hanya dimulut, tapi pembuktian, salah satunya adalah tunduk dan patuh atas keputusan dan ketetapan Allah dan RasulNya.

 

Kami tutup dengan sebuah ayat:

 

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

 

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS.An-Nisa’, Ayat 65)

 

Demikian. Wa Shallallahu’ala Nabiyyina Muhammadin wa’ala Aalihi wa shahbihi wa sallam