Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional

Pertanyaan  

Assalamualaikum, Ustadz. Saya punya beberapa pertanyaan, Ustadz.

  1. Mohon masukannya menjelaskan perbedaan bank syariah dan bank konvensional.
  2. Sejauh ini saya sering mendapatkan info bank syariah di Indonesia masih belum syar’i. Mohon masukannya juga, Ustadz .
  3. Apakah di zaman Rasulullah ada perbankan atau yang seperti bank? Bagaimana cara menjalankan syariat di zaman Rasulullah?

Jawaban
Ustadz DR. Oni Sahroni, MA

Waalaikumussalam.

Salah satu perbedaan antara bank konvensional dan bank syariah adalah fungsi kedua bank tersebut. Bank konvensional, sebagaimana namanya, adalah kreditor memberikan kredit untuk modal dan kebutuhan lain dengan bunga yang disyaratkan. Kalau A mendapatkan fasilitas kredit dari bank konvensional sejumlah uang tertentu, ia harus membayar sejumlah pokok beserta bunganya. Transaksi ini tidak diperkenankan dalam Islam karena merupakan bagian dari pinjaman berbunga sesuai dengan firman Allah,

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah : 275).

sedangkan bank syariah bukan sebagai kreditor (peminjam), melainkan sebagai penjual barang yang dibutuhkan nasabah, sebagai penjual jasa atau manfaat yang dibeli oleh nasabah, atau sebagai pemilik modal atau pengelola dengan nasabah sebagai mitra bagi hasilnya sehingga dengan transaksi jual beli dan dengan syarat bagi hasil, transaksi di bank syariah memiliki underlying asset atau objek akadnya yang berpengaruh positif terhadap sektor riil. Skema di bank syariah ini sebagaimana dikuatkan dalam keputusan Lembaga Fikih Internasional Organisasi Kerjasama Islam di Jeddah, Standar Syariah Internasional AAOIFI di Bahrain, dan DSN MUI.

Bank syariah belum sempurna, tetapi berikhtiar untuk sesuai dengan syariah. Namun, tidak bisa dikatakan tidak sesuai syariah sebagaimana lazimnya berkeluarga di masyarakat. Keluarga dengan segala keterbatasannya dinamika peran ayah dan ibu tidak maksimal pun tidak bisa dikatakan keluarga yang tidak sesuai syariah. Hanya ayah dan ibu yang belum maksimal menunaikan harus berikhtiar melengkapi kewajibannya agar melahirkan keluarga yang sakinah. Begitu halnya dengan lembaga keuangan syariah dengan seluruh stake holder menyambut, tetapi sistem, SDM, dan lainnya punya andil sehingga beberapa praktik tidak sesuai itu tidak berarti bank syariah tidak sesuai syariah. Hal ini sebagaimana Islam itu sendiri mengizinkan kebertahapan dan kisah Umar bi Abdul Azis dengan anaknya yang mengusulkan kepada khalifah untuk mewajibkan syariah Islam secara mandatory kepada masyarakat. Akan tetapi, sang khalifah menolak karena ia khawatir jika syariat Islam diterapkan sebelum menereka menerima kewajiban ini, mereka akan meninggalkan Islam. Sang khalifah lebih mengutamakan untuk memenuhi kebutuhan agar mereka sadar dan siap untuk diatur sehingga pada saatnya, mereka siap untuk diberlakukan syariah Islam secara mandatory.

Syariat Islam melalui Al-Qur`an dan hadits yang dicontohkan dengan sirah berfungsi untuk memberikan rambu-rambu yang menjadi rujukan dan referensi dalam kehidupan sehingga walaupun bank syariah tidak ada dalam sirah, Rasulullah dengan model yang dipraktikkan saat ini tidak berarti bank syariah tidak boleh karena Al-Qur`an yang telah memberikan rambu-rambu bagi entitas bisnis dan keuangan syariah untuk menjadikannya sebagai referensi sebagaimana firman Allah,

مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Artinya: ” Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.” (Q.S. Al-An’am: 38)