Shalat Sunnah yang Dilakukan Sebelum Shalat Jum’at

Shalat Sunnah yang Dilakukan Sebelum Shalat Jum’at

Narasumber Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

 

Assalamu’alaikum wr. wb.

Tata cara jum’atan dari pertama datang sampai selesai, sholat-sholat apa saja yang harus kita lakukan. Kan ada orang baru datang ke mesjid jum’atan pasti sholat dua rakaat, sholat apakah itu ustadz dan bagaimana tata cara nya? Dan setelah azan sebelum khotib naik ada sholat lagi 2 rakaat, solat apakah itu ustadz dan bagaimana tata caranya? Mohon bimbingannya ustadz.

(***** – Aceh)

Wa’alaikumussalam wr. wb.

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘alaa rasulillah wa ba’d.

Ada tiga shalat sunnah yang dilakukan sebelum shalat Jum’at.

1. Shalat Sunnah Tahiyatul Mesjid.

Ini hukumnya sunnah menurut mayoritas ulama. Walaupun ketika sampai di masjid, khatib sedang berkhutbah, Rasulullah ﷺ tetaplah menganjurkannya untuk dilakukan. Dari Abu Qatadah Radhiallahu ’Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

“Jika salah seorang kalian masuk ke masjid maka hendaknya dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.” (H.R. Bukhari No. 444, Muslim (69)  (714), At Tirmidzi No. 316, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 809, Ahmad No. 22576, 22582, 22631, Malik dalam Al Muwaththa’ No. 275, dan lain-lain).

Imam At Tirmidzi Rahimahullah berkata:

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَصْحَابِنَا اسْتَحَبُّوا إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ الْمَسْجِدَ أَنْ لَا يَجْلِسَحَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ عُذْرٌ

“Para sahabat kami mengamalkan hadits ini, menurut mereka sunnah bagi seorang yang masuk ke masjid untuk tidak duduk dulu sampai dia menunaikan shalat dua rakaat, kecuali dia memiliki ‘udzur.” (Lihat Sunan At Tirmidzi No. 316).

Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu, mengutip dari Imam Muhammad bin Hasan Radhiallahu ‘Anhu:

هذا تطوع وهو حسن وليس بواجب

“Ini sunnah dan bagus, bukan wajib.” (Al Muwaththa’ No. 275)[3]

Berkata Dr. Taqiyuddin An Nadwi –pentahqiq kitab Al Muwaththa’:

هو أمر ندب بالإجماع سوى أهل الظاهر فقالوا بالوجوب

“Ini adalah perkara sunnah menurut ijma’, kecuali menurut kelompok Ahli Zhahir (tekstualist), mereka mengatakan wajib.” Lalu beliau mengomentari ucapan Imam Muhammad bin Hasan, “… bukan wajib“:

وليس بواجب لأن النبي صلى الله عليه و سلم رأى رجلا يتخطى رقاب الناس فأمرهبالجلوس ولم يأمره بالصلاة كذا ذكره الطحاوي . وقال زيد بن أسلم : كان الصحابةيدخلون المسجد ثم يخرجون ولا يصلون وقال : رأيت ابن عمر يفعله وكذا سالم ابنهوكان القاسم بن محمد يدخل المسجد فيجلس ولا يصلي ذكره الزرقاني

… bukan wajib” karena Nabi ﷺ pernah melihat seorang laki-laki yang melangkahi punggung manusia, lalu Beliau memerintahkan laki-laki itu untuk duduk, dan dia tidak memerintahkannya untuk shalat. Demikian disebutkan oleh Ath Thahawi. Zaid bin Aslam mengatakan: “Dahulu para sahabat memasuki masjid kemudian keluar lagi dan mereka tidak shalat.” Dia (Zaid) berkata: “Aku melihat Ibnu Umar melakukannya, demikian juga Salim – anaknya-, dan juga Al Qasim bin Muhammad memasuki masjid dia duduk dan tidak shalat. Ini disebutkan oleh Az Zarqani. (Lihat Al Muwaththa’ No. 275, Catatan kaki No. 10. Cet. 1. 1413 H. Darul Qalam, Damaskus).

Kepada Siapakah Tahiyatul Masjid Disunnahkan?

Tahiyatul masjid disunnahkan bagi yang masuk ke masjid dalam keadaan berwudhu, sebagian ulama menambahkan: serta bermaksud duduk di dalamnya, bukan sekedar lewat. Sebagian lain mengatakan walaupun cuma lewat, tetap sunnah. Tertulis dalam Al Mausu’ah sebagai berikut:

يَرَى جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ أَنَّهُ يُسَنُّ لِكُل مَنْ يَدْخُل مَسْجِدًا غَيْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ – يُرِيدُالْجُلُوسَ بِهِ لاَ الْمُرُورَ فِيهِ ، وَكَانَ مُتَوَضِّئًا – أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَكْثَرَ قَبْل الْجُلُوسِ .وَالأَْصْل فِيهِ حَدِيثٌ رَوَاهُ أَبُو قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ قَال : إِذَا دَخَل أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يَرْكَعَ رَكْعَتَيْنِ   وَمَنْ لَمْ يَتَمَكَّنْمِنْهُمَا لِحَدَثٍ أَوْ غَيْرِهِ يَقُول نَدْبًا : سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُأَكْبَرُ ، وَلاَ حَوْل وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ . فَإِنَّهَا تَعْدِل رَكْعَتَيْنِ كَمَا فِي الأَْذْكَارِ

“Mayoritas ahli fiqih berpendapat bahwa disunnahkan bagi siapa saja yang masuk ke dalam masjid selain Masjidil Haram –yang berkehendak duduk bukan cuma lewat[4] dan dia dalam keadaan berwudhu- untuk shalat dua rakaat atau lebih[5] sebelum duduk. Dasarnya adalah hadits diriwayatkan Abu Qatadah Radhiallahu ‘Anhu: bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: Jika salah seorang kalian masuk ke masjid maka hendaknya dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk. Dan, siapa saja yang terhalang melakukan keduanya (shalat dan duduk) disebabkan hadats atau selainnya, disunnahkan mengucapkan: Subhanallah wal hamdulillah wa laailaha illallah wallahu akbar wa laa haulaa wa laa quwwata illa billahil ‘Aliyyil ‘Azhiim.[6] Sesungguhnya itu sebanding dengan dua rakaat tersebut sebagaimana disebutkan dalam Al Adzkar.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 10/305)

Walaupun Sudah Duduk Tetap Sunnah

Di antara kita mungkin pernah lupa tahiyatul masjid, lalu langsung duduk. Sering kali hal itu membuat sebagian kita ragu-ragu. Bolehkah tahiyatul masjid dilakukan padahal kita sudah duduk?

Jawabnya: boleh, dan tetap sunnah. Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, dari Abu Dzar Al Ghifari Radhiallahu ‘Anhu katanya:

دخلت المسجد فإذا رسول الله صلى الله عليه وسلم جالس وحده قال يا أبا ذر إنللمسجد تحية وإن تحيته ركعتان فقم فاركعهما قال فقمت فركعتهما

“Saya masuk ke masjid ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk sendirian. Beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya untuk masjid itu (ada) sambutannya, sambutan bagi masjid adalah shalat dua rakaat. Maka bangunlah dan shalatlah dua rakaat!” Abu Dzar berkata: “Maka saya bangun dan shalat dua rakaat.” (H.R. Ibnu Hibban No. 361)

Hadits ini sangat lemah, lantaran dalam sanadnya terdapat Ibrahim bin Hisyam bin Yahya bin Yahya Al Ghathafani. Imam Abu Zur’ah mengatakan tentang dia: Kadzdzaab (pembohong). (Imam Ibnul Jauzi, Adh Dhu’afa wal Matrukin No. 133. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah) Imam Abu Hatim dan lainnya mengatakan: laisa bitsiqah (bukan orang yang bisa dipercaya). (Imam Adz Dzahabi, Al Mughni fi Adh Dhu’afa no. 201)

Imam Abu Hatim juga mengatakan tentang Ibrahim bin Hisyam: Kadzdzaab (pembohong). Lalu Ali bin Al Husain bin Al Junaid berkata: “Abu Hatim benar, hendaknya jangan mengambil hadits darinya (Ibrahim bin Hisyam).” (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal No. 244)

Namun dalam riwayat lain, diriwayatkan secara shahih dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَصَلَّيْتَ يَافُلَانُ قَالَ لَا قَالَ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ

Datang seorang laki-laki dan Nabi ﷺ sedang berkhutbah di hadapan manusia pada hari Jum’at. Beliau bersabda: “Wahai Fulan, apakah Engkau sudah shalat?” orang itu menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Bangunlah dan shalatlah dua rakaat.” (H.R. Bukhari No. 930, dan Muslim No. 875)

Perkataan Nabi ﷺ: “Bangunlah …” menunjukkan bahwa sebelumnya orang tersebut telah duduk lebih dahulu.

Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa terlanjur “duduk” tidaklah membuat kesunnahan tahiyatul masjid menjadi gugur. (Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/228)

2. Shalat Sunnah Mutlak.

Ini juga sunnah hukumnya, tak ada perselisihan ulama. Shalat sunnah mutlak adalah shalat yang dilakukan tanpa terikat oleh waktu atau peristiwa. Misalnya, sambil menunggu adzan Jum’at, anda mengisi kekosongan waktu dengan melakukan shalat sunnah, itulah shalat sunnah mutlak dengan dilakukan dua rakaat, dan boleh berulang-ulang, hingga kita sendiri yang memutuskan untuk berhenti, atau karena khatib sudah naik mimbar.

3. Shalat Sunnah Qabliyah Jum’at setelah adzan pertama.

Para ulama berselisih faham tentang ini. Ada yang menilainya tidak disyariatkan, sebab menurut mereka memang tak ada satu pun keterangan dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau pernah melakukannya setelah adzan berkumandang. Dalam masalah ibadah ritual seperti shalat, harus memiliki dalil. Justru yang Nabi ﷺ contohkan adalah ketika setelah ke mimbar, lalu adzan, kemudian khuthbah.

Dalam Shahih Bukhari, diriwayatkan:

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ

Saib bin Yazid berkata, “Adalah adzan pada hari Jum’at, permulaannya adalah apabila imam duduk di atas mimbar, yakni pada masa Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan Umar Radhiallahu ‘anhuma. Maka pada masa Utsman Radhiallahu ‘Anhu dan orang-orang sudah banyak, ia menambahkan adzan yang ketiga di atas Zaura’. Berkata Abu Abdillah, Zaura’ adalah suatu tempat di pasar di kota Madinah. (H.R. Al Bukhari No. 912)

Bagi mereka, masalah ini tidak boleh diqiyaskan dengan shalat qabliyah Zhuhur, sebab dalam ibadah tidak boleh ada qiyas, berbeda dengan masalah muamalah. Tidak disyariatkannya qabliyah Jum’at merupakan pendapat Imam Malik dan umumnya pengikut Imam Ahmad bin Hambal. Sementara ulama lain yang mengatakan qabliyah Jum’at adalah sunnah, inilah pandangan Imam Abu Hanifah dan Imam Asy Syafi’i. Mereka beralasan dengan beberapa hadits berikut: بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثَلَاثًا لِمَنْ شَاءَ Di antara setiap dua adzan hendaknya ada shalat (sunnah), (Nabi ﷺ mengatakan tiga kali), bagi yang menghendaki. (H.R. Al Bukhari No. 624, 627, Muslim No. 838)

Maksud dari ‘antara dua adzan’ adalah di antara adzan dan iqamah. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Zubair bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

ما من صلاة مفروضة إلا وبين يديها ركعتان

“Tiada satu shalat fardhu (wajib) pun, melainkan pasti sebelumnya ada dua rakaat sunnah.” (H.R. Ibnu Hibban No. 2455, 2488. Syaikh Syu’aib Al Arnauth: isnadnya kuat. Ath Thabarani, Musnad Asy Syamiyyin, 3/282. Syaikh Hamdi bin Abdul Majid mengatakan: shahih)

Nah, bagi mereka, karena shalat Jum’at juga shalat fardhu sebagimana fardhu yang lain, maka ia termasuk keumuman hadits di atas. Yakni yang namanya shalat fardhu, pasti sebelumnya ada dua rakaat sunnah. Demikian, semoga bermanfaat, dan tidak menjadikan masalah khilafiyah sebagai sumber perpecahan. Wallahu A’lam.