Waktu Pelaksanaan Sholat Hajat

Pertanyaan  

Bagaimana caranya ustad jika kita mau sholat hajat, apakah waktu nya bisa dilakukan saat kita ingin melakukan nya saja

Jawaban
Ustadz Farid Nu'man, SS.

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

 

Shalat Hajat adalah sunah sebagaimana penjelasan mayoritas ahli fiqih, di antaranya Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

روى أحمد بسند صحيح عن أبي الدرداء أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:  من توضأ فأسبغ الوضوء ثم صلى ركعتين يتمهما أعطاه الله ما سأل معجلا أو مؤخرا

Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang shahih, dari Abu Darda, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang berwudhu lalu dia sempurnakan wudhunya, kemudian dia shalat dua rakaat sampai sempuna, niscaya Allah ﷻ akan mengabulkan apa yang diinginkannya baik segera atau diakhirkan.” (Fiqhus Sunnah, 1/213)

Hadits yang disampaikan dan dishahihkan oleh Syaikh Sayyid Sabiq, didhaifkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth. (Ta’liq Musnad AhmadNo. 27497)

 

Syaikh Husamuddin ‘Afanah  pernah ditanya tenang shalat hajat, berikut ini penjelasan Beliau:

يقول السائل: قرأت عن صلاة الحاجة في بعض كتب الأدعية، أرجو بيان حكمها وكيفيتها؟

الجواب: اتفق كثير من الفقهاء على أن صلاة الحاجة مستحبة وأنها تكون عندما تعرض للإنسان حاجة من حوائج الدنيا المشروعة فيستحب له أن يتوضأ ويصلي ركعتين لله تعالى، ويسأل الله جل وعلا حاجته، فإن فعل ذلك مؤمناً بقدرة الله عز وجل، فأرجو أن يحقق الله له ما أراد فقد ورد في الحديث عن عثمان بن حنيف – رضي الله عنه – (أن أعمى أتى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فقال: يا رسول الله، ادع الله أن يكشف لي عن بصري، قال: أوَ أدعك قال: يا رسول الله إنه قد شق علي ذهاب بصري، قال فاذهب فتوضأ، ثم صل ركعتين ثم قل: اللهم إني أسألك …..”….

Penanya: Saya membaca tentang shalat hajat pada sebagian buku-buku doa, saya harap penjelasan hukumnya dan cara pelaksanaannya?

Jawaban: Banyak ahli fiqih telah sepakat bahwa shalat hajat adalah mustahab (disukai/sunah), itu dilakukan ketika manusia menginginkan kebutuhan di antara hajat-hajat dunia yang dibenarkan syariat. Disunahkan baginya untuk berwudhu lalu shalat dua rakaat untuk Allah ﷻ, dan berdoa kepada Allah ﷻ, barang siapa yang melakukan itu karena keimanan terhadap qadar Allah ﷻ, maka Allah ﷻmengabulkan untuknya apa yang diinginkannya. Telah ada hadits dari ‘Utsman bin Hunaif Radhiallahu ‘Anhu, bahwa datang seorang buta kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar penglihatanku terbuka.” Nabi menjawab: “Ataukah aku mendoakanmu?” Laki-laki itu berkata: Waai Rasulullah, saya mengalami kesulitan karena telah lenyap penglihatan saya.” Nabi bersabda: “Pergilah, lalu berwudhu, dan shalat dua rakaat, lalau bacalah: “Ya Allah aku minta kepadamu …”  (Fatawa Yas’alunaka, 3/32)

 

Jadi pelaksanaannya sebagaimana shalat sunah biasa, sebanyak dua rakaat menurut jumhur ulama, sedangkan menurut Hanafiyah empat rakaat, sedangkan Al Ghazali mengatakan 12 rakaat. (Al Mausu’ah, 27/211-212), lalu berdoa sesuai hajat (kebutuhan). Bacaannya pun biasa saja sebagaimana shalat sunah dua rakaat, sesuai yang kita ketahui dan hapal.

 

Tertera dalam kitab Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, karya Syaikh Wahbah Az Zuhaili, katanya:

صلاة الحاجة: وهي أربع ركعات بعد العشاء، وقيل: ركعتان. ورد في الحديث المرفوع أنه يقرأ في الأولى الفاتحة مرة وآية الكرسي ثلاثاً، وفي كل من الثلاثة الباقية: يقرأ الفاتحة والإخلاص والمعوذتين مرة مرة، فإن قرأهن كن له مثلهن من ليلة القدر.

Shalat hajat: yaitu empat rakaat setelah ‘Isya, ada yang mengatakan dua rakaat. Terdapat dalam hadits marfu’ bahwa di rakaat pertama membaca Al Fatihah sekali dan ayat kursi tiga kali, lalu ditiap tiga rakaat sisanya membaca Al Fatihah, Al Ikhlas, dan Al Mu’awidzatain (Al Falaq dan An Naas), masing-masing sekali. Maka, jika jika surat-surat ini dibaca maka dia mendapatkan nilai seumpama pada Lailatul Qadr. (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 2/1065-1066), sayangnya dalam kitab ini tidak disebutkan status riwayat tersebut.

 

Ada pun Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz dan muridnya, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, mereka berdoa menyatakan dalam Fatawa Nur ‘Alad Darb, bahwa tidak ada dan tidak dikenal shalat bernama “Shalat Hajat”, yang ada menurut mereka adalah shalat taubat dan shalat istikharah.

 

📚   Tetapi, dalam kenyataan sejarah fiqih Islam, istilah shalat hajat sudah ada sejak belasan abad yang lalu, tertera dalam Sunan At Tirmidzi dan Sunan Ibni Majah dalam judul yang sama,  Bab Maa Jaa’a fi Shalatil Haajah (Bab Tentang Shalat Hajat).  Oleh karena itu, kenyataan ini menunjukkan hal itu sudah dikenal sejak masa salaf.

 

Kemudian, pada kitab-kitab para ulama empat mazhab pun terkenal shalat hajat ini. Oleh karenanya disebutkan dalam kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah:

اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّ صَلاَةَ الْحَاجَةِ مُسْتَحَبَّةٌ

Para ahli fiqih telah sepakat bahwa shalat hajat adalah sunah. (Al Mausu’ah, 27/211)

 

Selesai. Wallahu A’lam