Membaca Al Qur’an di HP Bagi Orang Yang Berhadats

Pertanyaan  

Bolehkan orang yang sedang dalam keadaan junub dan haid membaca al quran lewat aplikasi HP?

Jawaban
Ustadz Farid Nu'man, SS

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salam ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Biasanya orang membaca Al Quran dalam dua keadaan.

Pertama. Membaca  Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf.

Jika seperti ini, dan jika dia belum berwudhu, dan masih berhadats kecil, adalah boleh menurut ijma’.

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

فإن قرأ محدثا جاز بإجماع المسلمين والأحاديث فيه كثيرة معروفة

“Jika seorang berhadats membaca Al Quran maka BOLEH menurut ijma’ kaum muslimin, dan hadits-hadits tentang itu banyak dan telah diketahui.”  [1]

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah juga mengatakan:

المصحف وأما القراءة له بدون مس فهي جائزة اتفاقا.

Ada pun membacanya tanpa menyentuh,  adalah boleh menurut kesepakatan ulama.” [2]

Dan, Ijma’ (konsensus) merupakan salah satu sumber hukum Islam yang telah disepakati semua ulama Islam kecuali oleh golongan yang menyimpang. Namun demikian, walau pun boleh membaca Al Quran dalam keadaan hadats kecil, adalah hal yang disukai dan merupakan adab yang baik jika seseorang hendak membaca Al Quran dia berwudhu dahulu dan membersihkan mulutnya. Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

وينبغي إذا أراد القراءة أن ينظف فاه بالسواك وغيره والاختيار في السواك أن يكون بعود من أراك ويجوز بسائر العيدان وبكل ما ينظف كالخرقة الخشنة والأشنان وغير ذلك

“Hendaknya jika hendak membaca Al Quran dia membersihkan mulutnya dengan siwak dan selainnya.  Siwak yang dipilih berasal dari batang kayu Arok, dan dibolehkan dengan semua jenis batang kayu, dan apa saja yang dapat membersihkan, seperti dengan kain perca yang kasar dan usang, dan selain itu.” [3]

Ada teladan yang baik  dari Imam Malik Rahimahullah, bahwa jika beliau hendak menyampaikan hadits nabi, beliau berwudhu dahulu sebagai penghormatan atas ucapan Rasulullah.

Kedua.  Membaca Al Quran sambil  menyentuh mushaf.

Jika dalam keadaan hadats kecil dan belum berwudhu, maka ini perdebatan panjang dan melelahkan para ulama sejak dahulu sampai sekarang, di mana mayoritas mengatakan tidak boleh, wajib bersuci dulu, kecuali menurut sebagian ulama lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menjelaskan:

وأما مس المصحف، فالصحيح أنه يجب له الوضوء، كقول الجمهور، وهذا هو المعروف عن الصحابة : سعد، وسلمان، وابن عمر . وفي كتاب عمرو بن حزم عن النبي صلى الله عليه وسلم : ” لا يمس القرآن إلا طاهر ” . وذلك أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى أن يسافر بالقرآن إلى أرض العدو مخافة أن تناله أيديهم

“Ada pun menyentuh Mushaf, yang benar adalah wajib baginya berwudhu sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Hal ini telah diketahui dari para sahabat: Sa’ad, Salman, dan Ibnu Umar. Dari ‘Amru bin Hazm, dari Nabi n  bersabda: “Janganlah menyentuh Al Quran kecuali yang suci.” Dan, Nabi n  juga melarang bepergian membawa Al Quran ke negeri musuh (kafir), khawatir mereka menyentuhnya dengan tangan mereka.” [4]

Hal serupa dikatakan oleh Imam Abu Ishaq Asy Syirazi Rahimahullah:

ويحرم عليه مس المصحف لقوله تعالى (لا يمسه الا المطهرون) ولما روى حكيم بن حزام رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم قال (لا تمس القرآن الا وأنت طاهر) ويحرم عليه حمله في كمه لانه إذا حرم مسه فلان يحرم حمله

“Diharamkan atas orang yang berhadats menyentuh mushaf, karena firman Allah  k: “Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci.” Juga riwayat Hakim bin Hizam Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi n bersabda: “Janganlah menyentuh Al Quran kecuali jika kamu suci.” Dan diharamkan juga atasnya membawanya di lengan bajunya, sebab jika si Fulan diharamkan menyentuhnya maka membawanya juga diharamkan.” [5]

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah   menulis dalam kitab Al Fiqhul Islami-nya, dibawah pembahasan: “Apa-apa yang diharamkan  bagi orang yang berhadats kecil atau yang belum berwudhu” (ternyata beliau mengkategorikan ‘menyentuh mushaf’ termasuk larangan bagi orang yang berhadats kecil). Beliau mengatakan:

ولأن تعظيم القرآن واجب، وليس من التعظيم مس المصحف بيد حلَّها الحدث.

“Karena memuliakan Al Quran adalah wajib, dan bukanlah sikap memuliakan jika menyentuh Al Quran dengan tangan dalam keadaan berhadats.” [6]

Ada pun pihak yang membolehkan, berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah:

وروي عن ابن عباس ، والشعبي ، وجماعة منهم أبو حنيفة ، أنه يجوز للمحدث مسه ، وقد أوضحنا ما هو الحق في هذا في شرحنا للمنتقي ، فليرجع إليه

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Asy Sya’bi, dan  segolongan dari mereka seperti Abu Hanifah, bahwa boleh bagi seorang yang behadats untuk menyentuh Al Quran, dan kami telah menjelaskannya dalam Al Muntaqa’ mana pendapat yang benar, silahkan merujuk ke sana.” [7]

Ternyata Imam Asy Syaukani termasuk yang menguatkan dan mendukung pendapat bolehnya menyentuh Al Quran bagi yang berhadats kecil dan besar (Junub, Haid, dan Nifas).

Alasan-alasan  golongan ini adalah, maksud ayat laa yamassuhu illal muthahharun: “Tidak ada yang menyentuhnya kecuali yang suci.” (QS. Al Waqi’ah: 79)  tidaklah tepat jika kata ganti orang (dhamir) hu pada kata yamassuhu (menyentuhnya) diartikan menyentuh Al Quran, tetapi yang tepat hu di situ adalah kitab Lauh Mahfuzh,  hal ini bisa diketahui ketika ayat tersebut digandengkan dengan ayat sebelumnya:  “Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali al muthahharun (orang-orang yang disucikan).” (QS. Al Waqi’ah (56): 77-79).

Imam Ibnu Katsir mengutip dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma  bahwa makna  ayat tersebut adalah: “Kitab yang ada di langit.” Al Muthahharun adalah malaikat. Ini juga pendapat  para sahabat dan tabi’in kenamaan seperti:  Anas, Mujahid, Ikrimah, Said bin Jubeir, Adh Dhahak, Abu Sya’tsa, Jabir bin Zaid, Abu An Nahik, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam,  As Suddi,   dan lainnya. [8]

Sementara Imam Asy Syaukani dalam Fathul Qadir menceritakan banyak penjelasan dan tafsir tentang ayat itu, tetapi mayoritas pakar tafsir di masa salaf seperti yang dikatakan oleh    Al Wahidi: “Kebanyakan Ahli tafsir mengatakan bahwa dhamir (kata ganti) tersebut dikembalikan kepada kitabul maknun (lauh mahfuzh), jadi artinya tidak ada yang menyentuh lauh mahfuzh kecuali al muthahharun, mereka adalah malaikat.” [9]

Syaikh Sayyid Sabiq juga ikut mengomentari ayat ini, katanya:

وأما قول الله سبحانه: (لا يمسه إلا المطهرون)   فالظاهر رجوع الضمير إلى الكتاب المكنون، وهو وهو اللوح المحفوظ، لانه الاقرب، والمطهرون الملائكة، فهو كقوله تعالى: (في صحف مكرمة، مرفوعة مطهرة، بأيدي سفرة، كرام بررة)  وذهب ابن عباس والشعبي والضحاك وزيد بن علي والمؤيد بالله وداود وابن حزم وحماد بن أبي سليمان: إلى أنه يجوز للمحدث حدثا أصغر من المصحف وأما القراءة له بدون مس فهي جائزة اتفاقا.

“Ada pun firman Allahk: (Tidaklah menyentuhnya kecuali al muthahharun), maka menurut  lahiriyahnya, dhamir (kata ganti) mesti dikembalikan  al kitab al maknun , yaitu lauh mahfuzh, karena itu lebih dekat. Al Muthahharun adalah malaikat. Hal itu sebagaimana firmanNya: “ di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti.”  Dan, menurut Ibnu Abbas, Asy Sya’bi, Adh Dhahak, Zaid bin Ali, Muayyid Billah, Daud, Ibnu Hazm, Hammad bin Abi Sulaiman: bahwa  boleh bagi orang berhadats kecil menyentuh mushaf. Ada pun membacanya tanpa menyentuh,  adalah boleh menurut kesepakatan ulama.” [10]

Ada pun Imam Ibnu Hazm Rahimahullah, dengan gaya bahasanya yang tegas menolak jika ayat ini dijadikan dalil pengharamannya. Beliau berkata:

ا لاَ حُجَّةَ لَهُمْ فِيهِ لاَِنَّهُ لَيْسَ أَمْرًا وَإِنَّمَا هُوَ خَبَرٌ. وَاَللَّهُ تَعَالَى لاَ يَقُولُ إلاَّ حَقًّا. وَلاَ يَجُوزُ أَنْ يُصْرَفَ لَفْظُ الْخَبَرِ إلَى مَعْنَى الأَمْرِ إلاَّ بِنَصٍّ جَلِيٍّ أَوْ إجْمَاعٍ مُتَيَقَّنٍ. فَلَمَّا رَأَيْنَا الْمُصْحَفَ يَمَسُّهُ الطَّاهِرُ وَغَيْرُ الطَّاهِرِ عَلِمْنَا أَنَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَعْنِ الْمُصْحَفَ وَإِنَّمَا عَنَى كِتَابًا آخَرَ

“Maka pada ayat ini, tidak terdapat  hujjah (alasan) bagi mereka (untuk mengharamkannya), sebab di dalamnya tidak ada perintah, yang ada hanyalah pemberitaan (khabar). Allah k tidaklah berfirman kecuali yang benar. Dan, tidak boleh merubah lafaz khabar (berita) kepada makna amr (perintah) kecuali ada dalil yang jelas atau ijma’ yang meyakinkan. Maka, ketika kami melihat ada orang yang suci dan tidak suci menyentuh mushaf, maka tahulah kami bahwa Allah k  tidaklah memaksudkan itu adalah mushaf, melainkan itu adalah kitab yang lain.” [11]

Maka, inilah pandangan mayoritas ahli tafsir  yang dimotori Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma    dan juga orang-orang utama dalam tafsir Al Quran pada masa tabi’in, seperti Said bin Jubeir, Mujahid, dan Adh Dhahak. Bahwa ayat itu sedang membicarakan Lauh Mahfuzh, dan al muthahharun adalah malaikat. Demikian alasan pihak yang membolehkan membaca dan menyentuh Al Quran walau keadaan hadats kecil.

Kemudian, apakah aplikasi Al Qur’an di HP adalah mushaf? Bukan, mushaf adalah lembar Al Qur’an murni, tidak ada teks lainnya. Sebab tampilan HP, bergonta ganti; kadang YouTube, WA, dll.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

ولا مانع من مس ما اشتملت عليه من آيات من القرآن كالرسائل وكتب التفسير والفقه وغيرها، فإن هذه لا تسمى مصحفا ولا تثبت لها حرمته.

“Tidak ada larangan bagi siapa pun yang menyentuh sesuatu yang memuat di dalamnya ayat-ayat Al Quran, seperti surat, buku tafsir, fiqih, dan lainnya, sebab hal ini tidaklah dinamakan dengan mushaf, dan tidak ada yang nash shahih yang mengharamkannya.” [12]

Tertulis dalam kitab Al Khulashah Al Fiqhiyah ‘Ala Madzhabi Saadah Al Malikiyah:

وأما حمل التفسير ومسه والمطالعة فيه فلا يحرم للمحدث ولو كان جنبا لأنه لا يسمى مصحفا عرفا

“Ada pun membawa kitab tafsir dan menyentuhnya lalu mentelaahnya, tidaklah haram bagi orang berhadats walau pun junub, karena  menurut tradisi itu tidaklah dinamakan mushaf.”  [13]

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

هذه الجوالات التي وضع فيها القرآن كتابة أو تسجيلا ، لا تأخذ حكم المصحف ، فيجوز لمسها من غير طهارة ، ويجوز دخول الخلاء بها ، وذلك لأن كتابة القرآن في الجوال ليس ككتابته في المصاحف فهي ذبذبات تعرض ثم تزول وليست حروفا ثابتة

“HP yang di dalamnya tdpt aplikasi Al Quran baik tulisan atau suara, tidaklah dihukumi sebagai mushaf. Maka, boleh menyentuhnya tanpa bersuci. Boleh pula masuk WC dengannya. Hal disebabkan tulisan Al Qur’an di HP tidaklah seperti  di Mushaf. Keberadaannya hilang dan muncul, dia bukanlah huruf yang permanen.” [14]

Demikian. Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.