Dimanakah Orangtua Nabi di Akhirat ?

Pertanyaan  

Assalamualaikum ust pertanyaan dari binaan tentang keluarga nabi terkhusus bapak /ibu nabi Muhammad saw, apakah orang tua beliau masuk surga atau neraka. Krn nabi jadi rasul setelah ortu nya meninggal. ๐Ÿ™

Jawaban
Ustadz Farid Nu'man, SS

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

  1. Mukadimah

Tema ini telah menyedot perhatian banyak ulama dari zaman ke zaman. Satu sama lain saling mengingkari dan mengoreksi. Sebenarnya ini bukan hal baru, sebab dibanyak hal perbedaan pendapat juga tejadi. Oleh karena itu para ulama yang berselisih tentang ini juga tetap menjaga adab perbedaan pendapat di antara mereka.

 

Namun, musibah mulai terjadi ketika masalah ini dipegang oleh orang awam dan berwatak keras. Mereka memasukkan masalah ini dalam lingkup Al Wala wal Baraโ€™ (loyalitas dan anti loyalitas). Seakan, perbedaan pendapat dalam hal ini dapatย  memutuskan hubunganย  pihak mana pun yang berbeda dengan dirinya dan pendapatnya; menyerang ulama, menuduh bodoh, bidโ€™ah, dan sebagainya. Ini adalah sikap yang sembrono dan berbahaya.

 

Ketahuilah, seandainya Anda tidak tahu di manakah Ayah dan Bunda Rasulullah ๏ทบ di akhirat, maka Anda tidak berdosa dan itu bukan aib bagi Anda. Seandai pun Anda tahu, itu pun tidak lantas meninggikan derajat Anda di atas orang lain.

 

  1. Hadits Rujukan

 

Berikut ini adalah hadits yang dianggap melahirkan kontroversi:

 

ุนู† ุฃู†ุณ ุฃู† ุฑุฌู„ุง ู‚ุงู„ ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุฃูŠู† ุฃุจูŠ ู‚ุงู„ ููŠ ุงู„ู†ุงุฑ ูู„ู…ุง ู‚ููŠ ุฏุนุงู‡ ูู‚ุงู„ ุฅู† ุฃุจูŠ ูˆุฃุจุงูƒ ููŠ ุงู„ู†ุงุฑ

 

Dari Anas, bahwasanya ada seorang laki-laki berkata: โ€œWahai Rasulullah, di mana ayahku?โ€ Beliau bersabda: โ€œDi neraka.โ€ Ketika laki-laki itu berlalu, Nabi memanggilnya dan bersabda: โ€œAyahku dan Ayahmu di neraka.โ€ (HR. Muslim No. 203, Abu Daud No. 4720, Ibnu Hibban No. 578, Abu Yaโ€™la No. 3516, Ahmad No. 13834, Al Bazzar No. 1089, 6806)

 

Sederetan ulama menshahihkan hadits ini, seperti Muslim, Ibnu Hibban, Al Jauzajaaniy, Al Baihaqi, Ibnu Katsir, Al Albaniy, dan Al Huwainiy. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 103364)

 

Dalam riwayat lain:

 

…. ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุฑูŽุฃูŽู‰ ู…ูŽุง ูููŠ ูˆูŽุฌู’ู‡ูู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุจููŠ ูˆูŽุฃูŽุจูŽุงูƒูŽ ูููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู

 

…ketika Beliau (Nabi) melihat perubahan pada wajah orang itu, maka Nabi ๏ทบ bersabda: โ€œSesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.โ€ (HR. Ahmad No. 12192)

 

Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan:

 

โ€œPara perawi dalam hadits ini adalah perawi syaikhain (Bukhari dan Muslim), kecuali Hammad โ€“bin Salamah- seorang perawi Imam Muslim.โ€ (Taโ€™liq Musnad Ahmad No. 19/228)

 

Dengan kata lain, secara sanad hadits ini tidak ada cacat menurut umumnya ulama.

 

III.ย  Pandangan Para Ulama

 

Para ulama terbagi-bagi dalam menjelaskan hadits ini.

 

  1. Menetapkan bahwa ayah orang itu dan ayah Nabi ๏ทบ memang di neraka.

 

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:

 

ููŠู‡ ุฃู† ู…ู† ู…ุงุช ุนู„ู‰ ุงู„ูƒูุฑ ูู‡ูˆ ููŠ ุงู„ู†ุงุฑ ูˆู„ุง ุชู†ูุนู‡ ู‚ุฑุงุจุฉ ุงู„ู…ู‚ุฑุจูŠู† ูˆููŠู‡ ุฃู† ู…ู† ู…ุงุช ููŠ ุงู„ูุชุฑุฉ ุนู„ู‰ ู…ุง ูƒุงู†ุช ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุนุฑุจ ู…ู† ุนุจุงุฏุฉ ุงู„ุฃูˆุซุงู† ูู‡ูˆ ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ู†ุงุฑ ูˆู„ูŠุณ ู‡ุฐุง ู…ุคุงุฎุฐุฉ ู‚ุจู„ ุจู„ูˆุบ ุงู„ุฏุนูˆุฉ ูุงู† ู‡ุคู„ุงุก ูƒุงู†ุช ู‚ุฏ ุจู„ุบุชู‡ู… ุฏุนูˆุฉ ุงุจุฑุงู‡ูŠู… ูˆุบูŠุฑู‡ ู…ู† ุงู„ุฃู†ุจูŠุงุก ุตู„ูˆุงุช ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูˆุณู„ุงู…ู‡ ุนู„ูŠู‡ู… ูˆู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ุฃู† ุฃุจูŠ ูˆุฃุจุงูƒ ููŠ ุงู„ู†ุงุฑ ู‡ูˆ ู…ู† ุญุณู† ุงู„ุนุดุฑุฉ ู„ู„ุชุณู„ูŠุฉ ุจุงู„ุงุดุชุฑุงูƒ ููŠ ุงู„ู…ุตูŠุจุฉ

 

Dalam hadits ini menunjukkan bahwa orang yang wafat pada kekafiran maka dia di neraka, hubungan dekatnya dengan para muqarrabin (orang-orang yang dekat Allah) tidaklah bermanfaat. Dalam hadits ini juga menunjukkan bahwa orang yang wafat di masa fatrah (kekosongan kenabian) namun melakukan kebiasaan orang Arab berupa penyembahan kepada berhala maka dia termasuk ahli neraka. Ini bukanlah termasuk orang yang dinilaiย  belum tersampaikannya daโ€™wah, sebab daโ€™wah Nabi Ibrahim dan para Nabi lainnya โ€˜Alaihimussalam ย telah sampai kepada mereka. Sedangkan sabdanya: โ€œAyahku dan Ayahmu di nerakaโ€ merupakan bagusnya cara bergaul Rasulullah ๏ทบ, untuk menghibur orang itu dengan ikut berempati dalam musibah. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3/80)

Penjelasan Imam An Nawawi ini nampak begitu umum (muthlaq), nampak berlaku untuk siapaย  pun. Dia tidak membedakan ayah nabi dan ayah si laki-laki tersebut, pokoknya keduanya sama-sama wafat dalam keadaan kafir, dan neraka tempatnya. Hanya saja agak menjadi โ€œcairโ€ ketika Imam An Nawawi mengatakan ucapan tersebut adalah untuk menghibur saja, berempati, ikut merasa sedih atas musibah tersebut. Seolah nerakanya Ayah Nabi ๏ทบ tidak sungguhan, tapi sekedar untuk menghibur laki-laki itu. Apalagi dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan:

 

…. ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุฑูŽุฃูŽู‰ ู…ูŽุง ูููŠ ูˆูŽุฌู’ู‡ูู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุจููŠ ูˆูŽุฃูŽุจูŽุงูƒูŽ ูููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู

 

…ketika Beliau (Nabi) melihat perubahan pada wajah orang itu, maka Nabi ๏ทบ bersabda: โ€œSesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.โ€ (HR. Ahmad No. 12192)

 

Artinya, laki-laki itu sedih dan muram, lalu Nabi ๏ทบ menghiburnya dengan kalimat tersebut.

 

Pendapat kafirnya ayah dan ibu Nabi ๏ทบ juga di dukung oleh umumnya para ulama Arab Saudi. Syaikh Abdul Muhsin Al โ€˜Abbad Al Badr Hafizhahullah berkata:

 

ุฅุฐุงู‹: ูƒูˆู† ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุงุณุชุฃุฐู† ุฃู† ูŠุณุชุบูุฑ ู„ุฃู…ู‡ ูู„ู… ูŠุคุฐู† ู„ู‡ ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ุง ู…ุงุชุช ูƒุงูุฑุฉุŒ ูˆูƒุฐู„ูƒ ุฃุจูˆู‡ ู…ุงุช ูƒุงูุฑุงู‹ุŒ ูˆุฌุฏู‡ ู…ุงุช ูƒุงูุฑุงู‹ ุงู„ุฐูŠ ู‡ูˆ ุนุจุฏ ุงู„ู…ุทู„ุจ ุŒ ูˆูƒุฐู„ูƒ ุฃุจูˆ ุทุงู„ุจ ู„ู…ุง ุนุฑุถ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู‡ูˆ ููŠ ู…ุฑุถ ู…ูˆุชู‡ ุงู„ุฅุณู„ุงู…

 

Jadi, saat Rasulullah ๏ทบ minta izin (kepada Allah) untuk mendoakan ampun untuk ibunya, tapi itu tidak diizinkan, menunjukkan bahwa dia wafat dalam keadaan kafir dan demikian juga ayahnya wafat dalam keadaan kafir, dan kakeknya wafat dalam keadaan kafir yaitu Abdul Muthalib, demikian pula Abu Thalib ktika Nabi ๏ทบ menawarkan Islam kepadanya disaat sakit kematiannya.ย  (Syarh Sunan Abi Daud, 10/371)

 

Para ulama di Al Lajnah Ad Daimah kerajaan Arab Saudi, juga mengeluarkan fatwa kafirnya Bapak dan Ibu Rasulullah ๏ทบ dan mereka menilai bahwa keduanya bukan ahlul fatrah, bukan orang yang hidup di zaman kekosongan kenabian dan Risalah, tapi mereka berdua hidup di masa sisa risalah Nabi Ibrahim โ€˜Alaihissalam.

 

Berikut ini fatwanya:

 

ูˆุฃู…ุง ุฃุจูˆุง ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูู„ูŠุณุง ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ูุชุฑุฉ ุ› ู„ุฃู† ุงู„ุนุฑุจ ูƒุงู†ูˆุง ุนู„ู‰ ู…ู„ุฉ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุŒ ุฎุตูˆุตุง ููŠ ุฃุฑุถ ุงู„ุญุฌุงุฒ ุŒ ูˆุฅู†ู…ุง ุฏุฎู„ ุนู„ูŠู‡ู… ุงู„ุดุฑูƒ ุฃุฎูŠุฑุง ููŠ ุนู‡ุฏ ุนู…ุฑูˆ ุจู† ู„ุญูŠ ุงู„ุฎุฒุงุนูŠ ุŒ ูˆู„ูƒู† ุนู†ุฏู‡ู… ุจู‚ุงูŠุง ู…ู† ุฏูŠู† ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุŒ ู…ุซู„ ุงู„ุญุฌ ูˆุบูŠุฑู‡ ุŒ ูู„ูŠุณูˆุง ุฃู‡ู„ ูุชุฑุฉ ….

 

Ada pun kedua orang tua Rasulullah ๏ทบย  bukanlah termasuk ahlul fatrah, karena bangsa Arab dahulu di atas millah Ibrahim โ€˜Alaihissalam, khususnya di daerah Hijaz, akhirnya mereka kemasukan syirik di zaman Amru bin Luhay Al Khuzaโ€™iy, tetapi mereka masih memiliki sisa ajaran Nabi Ibrahim Alaihissalam seperti haji dan lainnya, jadi mereka bukanlah Ahlul Fatrah .. (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah No. 16426)

 

  1. Maksud dari โ€œAYAHKU di nerakaโ€ adalah pamanku, bukan Ayah kandung Nabi ๏ทบ

 

Sebagian ulama memaknai maksud hadits tersebut adalah pamannya. Ada pun ayahnya, Abdullah, dihitung sebagai ahlul fatrah, dan masuk surga.

Menurut mereka, kata โ€œayahโ€ dalam bahasa Arab dan juga kebiasaan saat itu, tidak selalu bermakna ayah kandung, tapi juga bisa bermakna paman, kakek, dan nenek moyang.

 

Hal ini sebagaimana ayat:

 

ุฃูŽู…ู’ ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุดูู‡ูŽุฏูŽุงุกูŽ ุฅูุฐู’ ุญูŽุถูŽุฑูŽ ูŠูŽุนู’ู‚ููˆุจูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู ุฅูุฐู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูุจูŽู†ููŠู‡ู ู…ูŽุง ุชูŽุนู’ุจูุฏููˆู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏููŠ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ู†ูŽุนู’ุจูุฏู ุฅูู„ูŽู‡ูŽูƒูŽ ูˆูŽุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุขุจูŽุงุฆููƒูŽ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ูˆูŽุฅูุณู’ู…ูŽุงุนููŠู„ูŽ ูˆูŽุฅูุณู’ุญูŽุงู‚ูŽ ุฅูู„ูŽู‡ู‹ุง ูˆูŽุงุญูุฏู‹ุง ูˆูŽู†ูŽุญู’ู†ู ู„ูŽู‡ู ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู†ูŽ

 

_Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhanย  ayah-ayahmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al baqarah: 133)

 

Syaikh Abdul Muhsin Al โ€˜Abbad Hafizhahullah berkata:

 

ูŠู‚ุตุฏ ุจู‡ุฐุง ุฃู† ุญุฏูŠุซ: [ (ุฅู† ุฃุจูŠ ูˆุฃุจุงูƒ ููŠ ุงู„ู†ุงุฑ) ] ูŠุญู…ู„ ููŠู‡ ุงู„ุฃุจ ุนู„ู‰ ุนู…ู‡ ุฃุจูŠ ุทุงู„ุจุŒ ูŠุฑูŠุฏูˆู† ุฃู„ุง ูŠูƒูˆู† ุงู„ู…ู‚ุตูˆุฏ ุฃุจุงู‡ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ูŠ ุงู„ุฐูŠ ู‡ูˆ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ุŒ ูˆุฅู†ู…ุง ุงู„ู…ู‚ุตูˆุฏ ุนู…ู‡ุŒ ูˆุนู…ู‡ ู…ุงุช ุนู„ู‰ ุงู„ุดุฑูƒ ูˆู‚ุฏ ุฃุฏุฑูƒู‡ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ุŒ ูˆู„ูƒู† ู„ู… ูŠุคู…ู† ุจู‡ุŒ ูˆูƒุงู† ูŠุนุฑู ุฃู† ู…ุง ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุฑุณูˆู„ ุญู‚ุŒ ูˆู„ูƒู† ุงุจุชู„ูŠ ุจุนุฒุฉ ุงู„ุขุจุงุก ูˆุงู„ุฃุฌุฏุงุฏ ูˆู…ุงุช ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ

 

Maksud hadits ini (Ayahku dan Ayahmu di neraka) adalah pamannya, Abu Thalib. Menurut mereka maksud ayah di sini bukanlah ayah sebenarnya yaitu Abdullah, maks

 

ud kalimat ini adalah pamannya. Pamannya wafat dalam keadaan syirik dan telah bertemu dengan Islam tetapi dia tidak mengimaninya. Dia mengetahui bahwa apa yang ada pada Rasulullah ๏ทบ adalah kebenaran, tetapi dia diujiย  oleh rasa takutku dan tidak kepada nenek moyangnya dan dia wafat dalam keadaan itu.ย  (Syarh Sunan Abi Daud, 27/127)

 

Syaikh Abdul Hadi As Sindi Rahimahullah menjelaskan:

 

ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽูˆู’ ุตูŽุญู‘ูŽ ูŠูุญู’ู…ูŽู„ ูููŠู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽุจ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุนูŽู…ู‘ ูˆูŽู„ูู‡ูŽุฐูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ุณู‘ููŠููˆุทููŠ ูููŠ ุญูŽุงุดููŠูŽุฉ ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจ ู‡ูŽุฐูŽุง ุฃูŽูŠู’ ุณูู†ูŽู† ุงูุจู’ู† ู…ูŽุงุฌูŽู‡ู’ ู…ูู†ู’ ู…ูŽุญูŽุงุณูู† ุงู„ู’ุฃูŽุฌู’ูˆูุจูŽุฉ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู…ูŽุง ูˆูŽุฌูŽุฏูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ุฑูŽุงุจููŠู‘ ูููŠ ู†ูŽูู’ุณู‡ ู„ูŽุงุทูŽููŽู‡ู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽุนูŽุฏูŽู„ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฌูŽูˆูŽุงุจ ุนูŽุงู…ู‘ ูููŠ ูƒูู„ู‘ ู…ูุดู’ุฑููƒ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุชูŽุนูŽุฑู‘ูŽุถ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุจ ุนูŽู†ู’ ูˆูŽุงู„ูุฏู‡ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูู†ูŽูู’ูŠู ูˆูŽู„ูŽุง ุฅูุซู’ุจูŽุงุช ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูุนู’ุฑูŽู ู„ููˆูŽุงู„ูุฏูู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุญูŽุงู„ูŽุฉ ุดูุฑู’ูƒ ู…ูŽุนูŽ ุตูุบูŽุฑ ุณูู†ู‘ู‡ ุฌูุฏู‘ู‹ุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุชููˆููู‘ููŠูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงูุจู’ู† ุณูุชู‘ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉ ุณูŽู†ูŽุฉ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฑููˆููŠูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุฃูŽุญู’ูŠูŽุง ู„ูู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽุงู„ูุฏููŠู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุขู…ูŽู†ูŽุง ุจูู‡ู ูˆูŽุงูŽู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูŽู‚ู’ุทูŽุน ุจูู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูู…ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉ

 

Seandainya hadits ini shahih, maka maksud ayah di sini adalah paman. Oleh karena itu Imam As Suyuthi berkata dalam Hasyiyah-nya terhadap kitab ini โ€“Sunan Ibnu Majah- berupa jawaban yang bagus bahwa ketika orang Aโ€™rabiy itu mengalami sesuatu dalam jiwanya maka Nabi ๏ทบ berempati kepadanya dan meluruskannya dengan jawaban umum bagi semua orang musyrik, dan tidak memaksudkan jawaban itu tentang ayahnya baik dengan penegasian dan tidak memastikan. Dia mengatakan, bahwa keadaan orangtuanya tidak diketahui kesyirikannya di mana saat itu Beliau masih sangat kecil, saat ayahnya wafat Nabi ๏ทบย  berusia 16 tahun (?). Diriwayatkan bahwa Allah ๏ทป menghidupkan kedua orangtuanya kembaliย  lalu mereka beriman kepadanya, yang dengannya maka dinilai bahwa keduanya di surga. (Hasyiyah As Sindi โ€˜Ala Ibni Majah, 3/348)

 

Dalam penjelasan di atas memang ada hal yang perlu dipertanyakan, yaitu usia Nabi ๏ทบ saat wafat ayahnya, dan keshahihan riwayat bahwa kedua orang tua Nabi๏ทบย ย  dihidupkan.

 

  1. Ayah Nabi ๏ทบ adalah ahlul fatrah, manusia yang dihidup di masa kekosongan Risalah kenabian

 

Syaikh Abdul Hadi As Sindi Rahimahullah berkata:

 

ูˆูŽู…ูู†ู’ ุฃูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ุงู„ู’ุญูุฌูŽุฌ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ ุงู„ู’ููŽุชู’ุฑูŽุฉ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุทู’ุจูŽู‚ูŽ ุฃูŽุฆูู…ู‘ูŽุชู†ูŽุง ุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ูŽุฉ ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุดู’ุนูŽุฑููŠู‘ูŽุฉ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุจู’ู„ูุบู‡ู ุงู„ุฏู‘ูŽุนู’ูˆูŽุฉ ู„ูŽุง ูŠูุนูŽุฐู‘ูŽุจ ูˆูŽูŠูŽุฏู’ุฎูู„ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉ ู„ูู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูู†ู‘ูŽุง ู…ูุนูŽุฐู‘ูุจููŠู†ูŽ – ุงู„ู’ุขูŠูŽุฉ

 

Dan di antara alasan yang paling kuat adalah bahwa keduanya termasuk ahlul fatrah. Para imam kami baik, Syafiโ€™iyah dan Asyโ€™ariyah, mengatakan bahwa siapa pun yang belum sampai kepadanya daโ€™wah Islam maka dia tidak diazab dan masuk surga, berdasarkan firman Allah ๏ทป : (Dan Kami tidak akan menyiksa sampai kami utus seorang Rasul). (Hasyiyah As Sindi โ€˜Ala Ibni Majah, 3/348)

 

Ini juga pendapat seorang ulama tafsir terkenal, Syaikh Amin Asy Syinqithiy Rahimahullah, bahwa hadits tersebut bertentangan dengan banyak ayat Al Quran yang qathโ€™iy. Hal iniย  dikatakan Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah berikut:

 

ู‚ุฏ ุฑุฌุญ ุงู„ุดูŠุฎ ู…ุญู…ุฏ ุงู„ุฃู…ูŠู† ุงู„ุดู†ู‚ูŠุทูŠ- ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุฏู„ุฉ ุงู„ู‚ุฑุขู†ูŠุฉ ู„ุฃู†ู‡ุง ู‚ุทุนูŠุฉุŒ ูุชู‚ุฏู… ุนู„ู‰ ู…ุง ุนุงุฑุถู‡ุง ู…ู† ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุฃุญุงุฏ.

 

Syaikh Amin Asy Syinqithiy Rahimahullah menguatkan dalil-dalil Al Quran ini, bahwa ini lebih diutamakan dibanding hadits-hadits ahadย  yang bertentangan dengannya. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 103364)

 

Ayat-ayat tersebut adalah:

 

ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูู†ู‘ูŽุง ู…ูุนูŽุฐู‘ูุจููŠู†ูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู†ูŽุจู’ุนูŽุซูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู‹ุง

ย 

ย โ€œ Dan Kami tidak akan mengazab sampai Kami mengutus seorang Rasul.โ€ (QS. Al Isra: 15)

 

Dan kepada bangsa Arab, tidak ada seorang Rasul pun yang diutus sebelum Nabi Muhammad ๏ทบ , sebagaimana ditegaskan oleh sejumlah ayat:

 

ู„ูุชูู†ู’ุฐูุฑูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู…ูŽุง ุฃูู†ู’ุฐูุฑูŽ ุขุจูŽุงุคูู‡ูู…ู’ ููŽู‡ูู…ู’ ุบูŽุงููู„ููˆู†ูŽ

 

โ€œAgar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.โ€ (QS. Yasin: 6)

 

Ayat lain:

ู„ูุชูู†ู’ุฐูุฑูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู…ูŽุง ุฃูŽุชูŽุงู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ู†ูŽุฐููŠุฑู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ููƒูŽ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ูŠูŽู‡ู’ุชูŽุฏููˆู†ูŽ

โ€œAgar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.โ€(QS. As Sajadah: 3)

 

Dan ayat lainnya.

Imam Al Abbiy Rahimahullah, mengoreksi Imam An Nawawi dengan mengatakan:

ย  ุฃู†ุธุฑ ู‡ุฐุง ุงู„ุงุทู„ุงู‚ ! ูˆ ู‚ุฏ ู‚ุงู„ ุงู„ุณู‡ูŠู„ู‰ : ู„ูŠุณ ู„ู†ุง ุฃู† ู†ู‚ูˆู„ ุฐู„ูƒ ูู‚ุฏ ู‚ุงู„ย  ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู…) ู„ูŽุง ุชูุคู’ุฐููˆุง ุงู„ู’ุฃูŽุญู’ูŠูŽุงุกูŽ ุจูุณูŽุจู‘ู ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงุชู

ูˆู‚ุงู„ ุชุนุงู„ู‰: ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูุคู’ุฐููˆู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูŽู‡ู ู„ูŽุนูŽู†ูŽู‡ูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู ูˆูŽุฃูŽุนูŽุฏู‘ูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจู‹ุง ู…ูู‡ููŠู†

ย Lihatlah kemutlakan (ucapan Imam An Nawawi) ini! As Suhailiy telah berkata: โ€œKami tidaklah berpendapat seperti itu (seperti Imam An Nawawi), karena Nabi ๏ทบ bersabda: โ€œJangan sakiti yang hidup dengan mencela yang sudah wafat.โ€ย  Dan Allah ๏ทป berfirman:ย  โ€œSesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.โ€ (QS. Al Ahzab: 57). (Syarh Al Abbiy wa Sanusiy โ€˜Ala Muslim, 1/363)

 

Bagi mereka, menyebut Ayah dan Ibu Nabi ๏ทบ berada di neraka merupakan bentuk celaan kepada Nabi ๏ทบ dan menyakiti Beliau ๏ทบ. Tentunya tak seorang pun muโ€™min yang rela melakukannya.

 

  1. Mendhaifkan

 

Ini pendapat Syaikh Muhammad Al Ghazaliy Rahimahullah, salah satu ulama Al Azhar, dikarena akan menurutnya hadits tersebut bertentangan dengan Al Quran. Hal ini dikatakan oleh Syaikh Yusuf Al Qaradhawiy Hafizhahullah sebagai berikut:

 

ุงู…ุง ุดูŠุฎู†ุง ุงู„ุดูŠุญ ู…ุญู…ุฏ ุงู„ุบุฒุงู„ู‰ ูู‚ุฏ ุฑูุถ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุตุงุฑุญุฉ ู„ุงู†ู‡ ูŠู†ุงูู‰ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ …..

ย  Ada pun guru kami, Syaikh Muhammad Al Ghazaliy telah menolak hadits ini karena bertentangan dengan firman Allah Taโ€™ala .. (lalu disebutkan ayat-ayat di atas). (Al Madkhal Lidirasah As Sunnah An Nabawiyah, Hal. 132)

 

  1. Tawaqquf (No Comment)

Ini adalah sikap Syaikh Yusuf Al Qaradhawiy Hafizhahullah. Setelah Beliau menjelaskan beragam pendapat tentang hadits โ€œAyahku dan Ayahmu di neraka,โ€ Beliau berkata:

 

ู„ู‡ุฐุง ุชูˆู‚ูุช ูู‰ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุญุชู‰ ูŠุธู‡ุฑ ู„ู‰ ุดูŠุฆุง ูŠุดูู‰ ุตุฏุฑ

ย  Oleh karena itu saya bertawaqqufย  tentang hadits ini sampai benar-benar nampak kebenaran bagiku yang dapat memuaskan dada. (Al Madkhal Lidirasah As Sunnah An Nabawiyah, Hal. 132)

 

Beliau juga berkata:

 

ู„ูƒู†ู‰ ุงูˆุซุฑ ูู‰ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุตุญุงุญ ุงู„ุชูˆู‚ู ููŠู‡ุง ุฏูˆู† ุฑุฏู‡ุง ุจุฅุทู„ุงู‚ ุฎุดูŠุฉ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ู„ู‡ุง ู…ุนู†ู‰ ู„ู… ูŠูุชุญ ุนู„ู‰ ุจู‡ ุจุนุฏ

 

Tetapi saya memilih sikap tawaqquf, tidak menolak secara mutlak terhadap hadits shahih, karena saya khawatir jangan-jangan nanti akan terungkap apa maknanya.

(Ibid, Hal. 133).

 

Inilah sikap Beliau yang hati-hati, setelah mengemukakan semua dalil yang ada.

 

6. Penutup

 

Demikianlah masalah ini. Hendaknya bagi para guru, syaikh, muballigh, daโ€™i, tidak hobiย  membahas masalah-masalah sensitif dan tidak produktif, yang tidak berbasiskan amal shalih, persaudaraan,ย  dan kekuatan umat.ย  Apalagi jika hanya untuk hura-hura intelektual atau memunculkan fitnah, lebih baik ditinggalkan. Sebab, sehebat apa pun kita menjelaskan dan ingin menunjukkan apa yang kita yakini, maka sehebat itu pula perlawanan dari pihak yang kontra.

 

Wallahu Aโ€™lam wal Mustaโ€™an …

Konsultasi Terkait