Bolehkah Menerima Upah Umroh Badal ?

Pertanyaan  

Assalamualaikum, Bolehkah mengerjakan umroh badal untuk orang lain (bukan saudara, tapi sudah wafat/ sakit keras) dan menerima uang “tanda terima kasih” dari keluarga yg bersangkutan?

Jawaban
Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

Waalaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh,

Orang yang tidak mampu melakukan ibadah haji atau umrah, karena sakit yang tidak ada harapan sembuh misalnya, atau sudah wafat, maka boleh dibadalkan hajinya oleh orang lain dengan catatan dia sudah melakukan haji dan umrah untuk dirinya sendiri.

Berdasarkan riwayat Razin Al-Uqaili, dia mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dia berkata,

“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya bapakku sudah tua renta, tidak dapat menunaikan haji dan umrah serta safar.’ Maka beliau bersabda,

حُجَّ عَنْ أَبِيكَ وَاعْتَمِرْ

‘Tunaikan haji dan umrah untuk bapakmu.” (HR. Abu Daud, Tirmizi dan Nasai)

Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendengar seseorang bertalbiah dengan mengucapkan, ‘Labbaika an syubrumah’. Lalu beliau  bertanya, ‘Siapakah Syubrumah?’ Dia menjawab, ‘Saudaraku atau kerabat.’ Beliau berkata, ‘Apakah kau sudah melakukan haji untuk dirimu?’ Dia menjawab, ‘Belum’ Maka beliau bersabda, ‘Tunaikan haji dahulu untuk dirimu lalu kemudian untuk Syubrumah.” (HR. Abu Daud  dan Ibnu Majah)

Apakah boleh orang yang menggantikannya mengambil upah? Perkara ini ada yang disepakati para ulama, ada pula yang diperselisihkan. Yang disepakati kebolehannya adalah apabila orang yang membadalkan mengambil biaya lalu uangnya digunakan untuk keperluan selama ibadah haji, jika ada kelebihannya dia kembalikan. Atau seseorang memintanya untuk melakukan haji atau umrah badal lalu memberinya sejumlah uang tanpa ada kesepakatan sebelumnya.

Adapun jika seseorang melakukan badal haji dan umrah lalu mengambil upah darinya dengan harapan ada kelebihan ongkos yang dapat dia ambil manfaatnya, maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.

Ulama dalam mazhab Hanafi dan Hambali menyatakan bahwa hal tersebut tidak boleh. Mereka berpendapat dengan umumnya kaidah tidak boleh mengambil upah dari ibadah kepada Allah, dan haji atau umrah termasuk ibadah.

Sedangkan ulama dalam mazhab Syafii dan sebagian ulama dalam mazhab Hambali berpendapat bahwa hal tersebut boleh. Mereka berdalil bahwa ibadah haji atau umrah adalah ibadah yang berdasarkan nash dapat diwakilkan jika memenuhi syarat seperti di atas.

Imam Syafii rahimahullah berkata dalam kita Al-Umm;

قَالَ الشَّافِعِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: لِلرَّجُلِ أَنْ يَسْتَأْجِرَ الرَّجُلَ يَحُجُّ عَنْهُ إذَا كَانَ لَا يَقْدِرُ عَلَى الْمَرْكَبِ لِضَعْفِهِ وَكَانَ ذَا مَقْدِرَةٍ بِمَالِهِ وَلِوَارِثِهِ بَعْدَهُ، وَالْإِجَارَةُ عَلَى الْحَجِّ جَائِزَةٌ جَوَازُهَا عَلَى الْأَعْمَالِ سِوَاهُ، بَلْ الْإِجَارَةُ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى الْبِرِّ خَيْرٌ مِنْهَا عَلَى مَا لَا بِرَّ فِيهِ، وَيَأْخُذُ مِنْ الْإِجَارَةِ مَا أَعْطَى، وَإِنْ كَثُرَ كَمَا يَأْخُذُهَا عَلَى غَيْرِهِ لَا فَرْقَ بَيْنَ ذَلِكَ

“Asy-Syafii rahimahullah berkata; Seseorang boleh memberikan upah kepada orang lain untuk melakukan haji atas nama dirinya jika dia tidak mampu menaiki kendaraan (untuk berhaji) karena kelemahannya sedangkan dia orang yang memiliki kemampuan harta dan juga masih tersisa harta untuk ahli waris sesudahnya. Mengupahkan seseorang untuk menunaikan haji atas nama orang lain dibolehkan sebagaimana dibolehkan memberikan upah untuk pekerjaan selainnya. Bahkan upah dalam hal ketaatan insyaAllah lebih baik daripada dalam hal yang tidak ada ketaatan di dalamnya. Seseorang yang diberi upah boleh mengambil upahnya walaupun banyak sebagaimana dia boleh mengambil upah untuk pekerjaan lainnya, tidak ada bedanya dalam hal ini” (Al-Umm, Imam Syafii, 2/135)

Disamping ibadah haji adalah ibadah harta (ibadah maliyah) yang pelaksanaannya membutuhkan biaya. Berbeda dengan ibadah shalat dan puasa misalnya yang disatu sisi tidak ada nash yang membolehkannya dibadalkan orang lain dan di sisi lain dia bukan ibadah maliyah. Karenanya tidak dapat dilakukan badal atas ibadah tersebut.

Pendapat ketiga adalah pendapat ulama dalam mazhab Maliki yang menyatakan boleh mengambil upah dari badal haji atau umrah jika membutuhkan. Adapun jika tidak membutuhkan maka hukumnya makruh.

Maka uang yang diterima dari badal haji atau umrah, tidak mengapa insya Allah, walaupun ada kelebihan dari upah tersebut dibanding biaya yang dikeluarkan, sepanjang wajar dan tidak berlebihan. Apalagi jika pemberian tersebut sifatnya hadiah yang tidak disepakati sebelumnya. Wallahu a’lam.