Bolehkah Menceritakan Kebahagiaan di Medsos?

Pertanyaan  

Bismillah, Berkata Imam Ibnu Hazm Rahimahullah, “Betapa banyak yang kami saksikan orang yang membanggakan apa yang ia miliki dari harta benda, dan hal itu merupakan sebab binasanya baik dengan ‘ain pandangan pendengki ataukah tipudaya musuh. Maka waspadalah dari perkara ini sebab ini adalah murni kemudharatan tidak ada manfaatnya sama sekali. (al Akhlaq was Siyar 166) … Izin bertanya, bagaimana jika ada pernyataan tersebut , dan bagaimana pula dengan surat ad Dhuha ayat terakhir yang artinya ” Adapun atas nikmat Tuhanmu maka ceritakan lah” , apakah kita tidak boleh pamer di medsos karena alasan ain atau mengikuti anjuran surat ad Dhuha bahwa kita mendapatkan nikmat dari Allah seyogyanya di ceritakan?

Jawaban
Ustadz Farid Nu'man, SS

Bismillahirrahmanirrahim..

Ada kaidah fiqih:

 الأمور بمقاصدها

Perkara-perkara itu dinilai berdasarkan niat-niatnya

Niat ini menjadi sumber penilaian syariat atas perbuatan manusia.  Dia dinilai pahala atau dosa tergantung niatnya.

Hujjatul Islam, Al Imam Al Ghazali Rahimahullah mengatakan:

وَإِنَّمَا نَظَرَ إِلَى الْقُلُوبِ لأَِنَّهَا مَظِنَّةُ النِّيَّةِ ، وَهَذَا هُوَ سِرُّ اهْتِمَامِ الشَّارِعِ بِالنِّيَّةِ فَأَنَاطَ قَبُول الْعَمَل وَرَدَّهُ وَتَرْتِيبَ الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ بِالنِّيَّةِ

“Sesungguhnya Dia melihat kepada hati lantaran hati adalah tempat dugaan niat, inilah rahasia perhatian Allah terhadap niat. Maka, diterima dan ditolaknya amal tergantung niatnya, dan pemberian pahala dan siksa juga karena niat.” (Ihya ‘Ulumuddin, 4/351)

Maka, untuk kasus yang ditanyakan yaitu status-status dimedsos, foto-foto, dan seterusnya. Juga demikian jika tujuan dan niatnya baik, maka itu baik. Niatnya untuk memberikan pengajaran, pendidikan, memulai sunnah hasanah, menampakkan nikmat Allah, dan semisalnya, maka ini baik. Dia berpahala karenanya. Kita sebagai pembaca dituntut untuk husnudzhan.

Sedangkan jika niatnya buruk, seperti untuk pamer, semata-mata ingin menunjukkan kedudukan sosial, eksistensi, dan semisalnya, maka ini buruk. Dia berdosa karenanya. Walau manusia tidak menyangka seperti itu, tapi Allah tahu apa niat dan maksud dia.

Semoga Allah senantiasa memberikan kita hidayah dan istiqamah.

Demikian. Wallahu a’lam.

Konsultasi Terkait

Menyambut Pergantian Tahun dengan Amal dan Ibadah 

Pointer Khutbah Juma’t 1442 H (Seri 29) Tema : Menyambut Pergantian Tahun dengan Amal dan Ibadah  Penulis : KH. Dr. Surahman Hidayat, MA. Khutbah Pertama الْحَمْدُ للهِ الْقَائِل فِي كِتَابِهِ :يُقَلِّبُ ٱللَّهُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ  إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّأُوْلِى ٱلْأَبْصَٰرِ أشْهَدُ أنْ لاَ إلهَ إلاَّ الله جَلَّ وَعلاَ وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه الرَّحْمَة لِلْبَرَايَا الَّلهُمَّ … Continued

Selengkapnya

Menyikapi Hadiah Non Muslim kepada Kita

Ustadz bagaimana sikap terbaik dlm islam, terhadap tentangga kita yg akan merayakan natal, Mereka tetangga yg baik dan santun. Ketika lebaran, mereka berkunjung ke rumah kami. Terkadang memberi makanan, apa boleh kami makan?

Selengkapnya

Hari Ibu; Haram dan Menyerupai Orang Kafir?

saya nanya soal larangan memperingati hari ibu menurut beberapa ustadz karena tasabbuh, saya kerja di bumn tadi pagi disuruh upacara memperingati hari ibu, karena tasabbuh berarti semua karyawan termasuk saya yg muslim berdosa.

Selengkapnya