Amal Akhirat untuk Keperluan Dunia

Pertanyaan  

Assalamu alaikum ustadz…
Bisa kah dijelaskan tafsir QS hud : 15 dan 16?
Kalo ada amalan sedekah subuh lalu disertai doa/hajat kita, adakah itu bertentangan dengan surat hud di atas?

Jawaban
Ustadz Farid Nu'man, SS

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Bismillahirrahmanirrahim..

Amal akhirat untuk keperluan dunia, perlu diperinci dulu..

Amal Yg memang ada perintah dan contohnya ada manfaat dunia. Maka, tidak apa-apa melakukannya.

Misalnya:

– banyak2 istighfar, agar dampaknya dapat anak, rezeki, turun hujan..

Hal ini berdasarkan ayat:

فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارٗا

maka aku berkata (kepada mereka), “Beristighfarlah kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun,

يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا

niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,

وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰلٖ وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّتٖ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرٗا

dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”

(QS. Nuh, Ayat 10 – 12)

– Shalat istikharah dan shalat hajat, maka jika ada keperluan duniawi atau agama, maka sunnah kita melakukan shalat ini.

Syaikh Husamuddin ‘Afanah pernah ditanya tenang shalat hajat, berikut ini penjelasan Beliau:

يقول السائل: قرأت عن صلاة الحاجة في بعض كتب الأدعية، أرجو بيان حكمها وكيفيتها؟
الجواب: اتفق كثير من الفقهاء على أن صلاة الحاجة مستحبة وأنها تكون عندما تعرض للإنسان حاجة من حوائج الدنيا المشروعة فيستحب له أن يتوضأ ويصلي ركعتين لله تعالى، ويسأل الله جل وعلا حاجته، فإن فعل ذلك مؤمناً بقدرة الله عز وجل، فأرجو أن يحقق الله له ما أراد فقد ورد في الحديث عن عثمان بن حنيف – رضي الله عنه – (أن أعمى أتى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فقال: يا رسول الله، ادع الله أن يكشف لي عن بصري، قال: أوَ أدعك قال: يا رسول الله إنه قد شق علي ذهاب بصري، قال فاذهب فتوضأ، ثم صل ركعتين ثم قل: اللهم إني أسألك …..”….

Penanya: Saya membaca tentang shalat hajat pada sebagian buku-buku doa, saya harap penjelasan hukumnya dan cara pelaksanaannya?

Jawaban: Banyak ahli fiqih telah sepakat bahwa shalat hajat adalah mustahab (disukai/sunah), itu dilakukan ketika manusia menginginkan kebutuhan di antara hajat-hajat DUNIA yang dibenarkan syariat. Disunahkan baginya untuk berwudhu lalu shalat dua rakaat untuk Allah ﷻ, dan berdoa kepada Allah ﷻ, barang siapa yang melakukan itu karena keimanan terhadap qadar Allah ﷻ, maka Allah ﷻmengabulkan untuknya apa yang diinginkannya. Telah ada hadits dari ‘Utsman bin Hunaif Radhiallahu ‘Anhu, bahwa datang seorang buta kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar penglihatanku terbuka.” Nabi menjawab: “Ataukah aku mendoakanmu?” Laki-laki itu berkata: Waai Rasulullah, saya mengalami kesulitan karena telah lenyap penglihatan saya.” Nabi bersabda: “Pergilah, lalu berwudhu, dan shalat dua rakaat, lalau bacalah: “Ya Allah aku minta kepadamu …” (Fatawa Yas’alunaka, 3/32)

Bagaimana dengan SHALAT DHUHA? BENARKAH FADHILAHNYA UNTUK LANCAR REZEKI?

TIDAK ADA satu pun hadits yang lugas dan tegas menyebut itu. Yg ada adalah sebagai berikut:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ اكْفِنِى أَوَّلَ النَّهَارِ بِأَرْبَعِ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ بِهِنَّ آخِرَ يَوْمِكَ

Sesungguhnya Allah berfirman: “Wahai ‎anak adam, laksanakan untukKu EMPAT rakaat di awal siang, Aku akan cukupi ‎dirimu dengan shalat itu di akhir harimu.”

(HR. Ahmad 17390, shahih)

Para ulama berbeda pendapat tentang “empat rakaat” dalam hadits tsb. Ada yg menyebut shalat dhuha, shalat isyraq, dna ada yang menyebut qabliyah subuh dan subuhnya, seperti yang dijelaskan Imam Ali al Qari.

PERHATIAN!

1. Walaupun ibadah-ibadah seperti istighfar, shalat hajat, shalat istikharah, BISA BERDAMPAK DUNIA, namun tetap tidak dibenarkan menjadikannya sebagai TARGET UTAMA. Sebab itu bisa menjadikannya PENGHAPUS PAHALA AKHIRAT. Maka, utamakanlah akhirat, utamakan ridha Allah, ada pun manfaat dunia itu adalah ekses dan dampak moral yang positif yang Allah segerakan di dunia.

Dari Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

Barangsiapa diantara mereka beramal amalan akhirat dengan tujuan dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian apa-apa di akhirat.

(HR. Ahmad No. 20275. Ibnu Hibban No. 405, Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain No. 7862, katanya: sanadnya SHAHIH)

Lebih tegas lagi dalam Al Quran:

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيۡهِمۡ أَعۡمَٰلَهُمۡ فِيهَا وَهُمۡ فِيهَا لَا يُبۡخَسُونَ

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan.

أُوْلَٰئِكَ ٱلَّذِينَ لَيۡسَ لَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.

(QS. Hud, Ayat 15-16)

Terakhir…. Jangan tertipu oleh rajinnya IBADAH SUNNAH, tapi yang WAJIBNYA jadi korban. Sebab ibadah SUNNAH tersebut TERTOLAK jika yang wajibnya amburadul.

Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu berkata:

وَأنَّهُ لاَ يَـقـْـبَلُ نَافِلَةً حَتَّى تُؤَدَّى الْفَريِْضَة

Tidaklah diterima ibadah sunnah sampai ditunaikan yang wajibnya. (Imam Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya, 1/36)

Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah berkata:

إن أفضل العبادة أداء الفرائض و اجتناب المحارم

Sesungguhnya ibadah yang paling utama adalah menunaikan kewajiban dan menjauhi larangan. (Jawaahir min Aqwaal As Salaf No. 65)

Demikian. Wallahu a’lam.