Niat Puasa Utang Ramadhan Setelah Subuh

Pertanyaan  

Assalamualaikum ustadz mau tanya kalau niat puasa bayar utang Ramadhan niatnya sudah adzan subuh apakah bisa?

Jawaban
Ustadz Farid Nu'man Hasan, SS

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Para ulama umumnya mensyaratkan niat adalah di malam hari, dan maksimal sebelum fajar (subuh). Hal itu berdasarkan beberapa riwayat berikut.

Dari Hafshah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له

Barang siapa yang malam hari belum berniat puasa, maka tidak ada puasa baginya. (HR. An Nasa’i No. 2334, Al Baihaqi No. 8163)

Al Hafizh Ibnu hajar berkata: “Hadits ini dishahihkan para imam, seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al Hakim, dan Ibnu Hazm. (Fathul Bari, 4/142)

Juga Dari Hafshah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

Barang siapa yang belum berniat puasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya. (HR. At Tirmidzi No. 730, Abu Daud No. 2456, Ad Daruquthni, 2/172, Ad Darimi No. 1698, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 2654, Ibnu Khuzaimah No. 1933)

Hadits shahih, seperti yang dikatakan oleh Syaikh Al Albani, Syaikh Al A’zhami, dan Syaikh Husein Salim Asad.

Nah, hadits ini menjadi dasar bahwa niat berpuasa, khususnya puasa wajib (Ramadhan, qadha, dan nazar) adalah di malam hari, paling lambat sebelum fajar.

Imam Ibnu Khuzaimah berkata:

أراد بقوله : لا صيام لمن لم يجمع الصيام من الليل الواجب من الصيام دون التطوع منه

Maksud dari sabdanya: “Tidak ada puasa bagi yang belum berniat puasa pada malam hari” adalah puasa wajib, bukan puasa sunnah. (Shahih Ibni Khuzaimah, 3/213)

Imam Al Munawi berkata:

( من لم يبيت الصيام قبل طلوع الفجر ) أي ينويه قبله ( فلا صيام له ) اذا كان فرضا

(Barang siapa yang belum berniat puasa sebelum terbitnya fajar) yaitu berniat sebelumnya, (maka tidak ada puasa baginya), yaitu jika puasa fardhu. (At Taisir, 2/857)

Kenapa puasa sunnah boleh berniat setelah fajar?

Aisyah Radhiallahu ‘Anha bercerita:

كان النبي صلى الله عليه و سلم يأتينا فيقول هل عندكم من غداء فإن قلنا نعم تغدى وإن قلنا لا قال إني صائم

Dahulu Nabi ﷺ mendatangi kami dan berkata: “Apakah kamu punya makan buat sarapan?” Jika kami jawab: “Ya” maka dia makan, jika kami jawab “tidak”, maka dia berkata: “Kalau begitu saya berpuasa.” (HR. Ad Daruquthni, 2/176, No. 21. Kata Ad Daruquthni: shahih)

Bagaimana kalau lupa melafazkan? Melafazkan niat itu bukan syarat sahnya puasa, yang penting sudah ada niat di hati, dan itu sudah ditunjukkan dengan aktifitas sahur. Jika orang makan sahur itu menjadi tanda bahwa dia mau puasa walau tidak mengucapkannya.

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

Pendapat kalangan Hanafiyah (pengikut Imam Abu Hanifah) berdasarkan pendapat yang dipilih, dan Syafi’iyah (pengikut imam Asy Syafi’i) serta Hanabilah (Hambaliyah-pengikut Imam Ahmad bin Hambal) menurut pendapat madzhab bahwasanya melafazkan niat dalam peribadatan adalah sunah, agar lisan dapat membimbing hati.
Sebagian Hanafiyah dan sebagian Hanabilah menyatakan bahwa melafazkan niat adalah makruh. Kalangan Malikiyah (pengikut Imam Malik) mengatakan bolehnya melafazkan niat dalam peribadatan, namun yang lebih utama adalah meninggalkannya, kecuali bagi orang yang was-was maka baginya dianjurkan untuk melafazkannya untuk menghilangkan kekacauan dalam pikirannya. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 42/67)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Hafizhahullah menjelaskan: “Secara qah’i melafazkan niat tidaklah menjadi syarat sahnya, tetapi disunahkan menurut jumhur (mayoritas) ulama -selain Malikiyah- melafazkannya untuk menolong hati menghadirkan niat, agar pengucapan itu menjadi pembantu dalam mengingat, dan yang lebih utama menurut kalangan Malikiyah adalah meninggalkan pelafazan niat itu, karena tidak ada riwayat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya tentang melafazkan niat, begitu pula tidak ada riwayat dari imam yang empat.” (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 1/137)

Wallahu A’lam.

Konsultasi Terkait