Larangan Shalat Ghaib Setelah Shalat Ashar?

Pertanyaan  

Assalamualaikum ustadz, apakah shalat ghaib itu tidak boleh dilaksanakan setelah shalat ashar dan shalat subuh? Misalnya habis shalat subuh berjamaah di masjid langsung dilanjutkan dengan shalat ghaib?

Jawaban
Ustadz Farid Nu'man Hasan, SS

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Bismillahirrahmanirrahim

Tentang shalat terhadap jenazah setelah ashar, baik secara ghaib atau tidak, ada perbedaan para ulama.

1. Pihak yang memakruhkan

Dalilnya adalah keumuman hadits:

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ، وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ العَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ

Janganlah shalat setetah subuh sampai terbitnya matahari, dan janganlah shalat setelah ashar sampai terbenamnya matahari. (HR. Al Bukhari No. 586)

Juga hadits dari ‘Uqbah bin’ Aamir al Juhani Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ

“Ada tiga waktu, yang mana Rasulullah ﷺ telah melarang kita untuk shalat atau menguburkan jenazah pada waktu-waktu tersebut. (Pertama), saat matahari terbit hingga ia agak meninggi. (Kedua), saat matahari tepat berada di pertengahan langit (tengah hari tepat) hingga ia telah condong ke barat, (Ketiga), saat matahari hampir terbenam, hingga ia terbenam sama sekali.”

(HR. Muslim no. 831)

Sebagian para sahabat nabi, Ibnul Mubarak, Ahmad, dan Ishaq, memakruhkan shalat jenazah setelah Ashar.

Imam At Tirmidzi Rahimahullah mengatakan:

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ يَكْرَهُونَ الصَّلَاةَ عَلَى الْجَنَازَةِ فِي هَذِهِ السَّاعَاتِ و قَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ مَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا يَعْنِي الصَّلَاةَ عَلَى الْجَنَازَةِ وَكَرِهَ الصَّلَاةَ عَلَى الْجَنَازَةِ عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَعِنْدَ غُرُوبِهَا وَإِذَا انْتَصَفَ النَّهَارُ حَتَّى تَزُولَ الشَّمْسُ وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ وَإِسْحَقَ قَالَ الشَّافِعِيُّ لَا بَأْسَ فِي الصَّلَاةِ عَلَى الْجَنَازَةِ فِي السَّاعَاتِ الَّتِي تُكْرَهُ فِيهِنَّ الصَّلَاةُ

Hadits ini diamalkan oleh sebagian ulama dari kalangan sahabat Nabi ﷺ dan yang lainnya. Mereka membenci shalat jenazah pada waktu tersebut. Ibnu Mubarak berkata; ‘Makna kalimat hadits ini “mengubur orang yang meninggal di antara kita” maksudnya adalah shalat jenazah.’ Dia membenci (makruh) shalat jenazah ketika matahari terbit, ketika tenggelam dan ketika pertengahan siang sehingga matahari condong. Ini juga merupakan pendapat Ahmad dan Ishaq. Asy Syafi’i berkata; ‘Tidak mengapa shalat jenazah pada waktu yang dibenci untuk melakukan shalat di dalamnya’.”

(Sunan At Tirmidzi no. 1030)

2. Pihak yang membolehkan.

Ini adalah pendapat mayoritas sahabat nabi baik Anshar dan Muhajirin, berserta Imam Asy Syafi’i dan pengikutnya.

Mereka mengatakan larangan tersebut bukanlah larangan shalat jenazah, tapi larangan mengubur jenazah sebagaimana bunyi haditsnya. Ada pun larangan shalat maksudnya adalah shalat sunnah muthlaq, sedangkan shalat yang ada sebab khusus, tidaklah termasuk larangan.

Imam Al Bukhari Rahimahullah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah shalat setelah Ashar disebabkan oleh tidak sempatnya Beliau melakukan rawatib zuhur berikut:

وَقَالَ كُرَيْبٌ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ وَقَالَ شَغَلَنِي نَاسٌ مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ عَنْ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ

Kuraib berkata, dari Ummu Salamah: “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat setelah ashar sebanyak dua rakaat.” Beliau bersabda: “Orang-orang dari Abdul Qais telah menyibukkanku dari shalat dua rakaat setelah zhuhur.”

(Shahih Bukhari, diriwayatkan secara mu’allaq dalam Bab Maa Yushalla Ba’dal ‘Ashri wa Minal Fawaa-it wa Nahwiha)

Imam Badruddin Al ‘Aini Rahmahullah berkata:

قال الكرماني وهذا دليل الشافعي في جواز صلاة لها سبب بعد العصر بلا كراهة

Berkata Al Kirmani: “Ini adalah dalil bagi Asy Syafi’i tentang kebolehan shalat  setelah ‘Ashar jika memiliki sebab, sama sekali tidak makruh.” (‘Umdatul Qari, 8/19)

Menurut Imam Al Aini sendiri – dia Hanafi- itu kekhususan bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam saja. Namun, Syafi’iyah mengoreksinya bahwa tidak ada dasar klaim kebolehan itu khusus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam saja. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah berlaku umum sampai adanya dalil yang menunjukkan itu khusus baginya saja.

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan makna hadits ‘Uqbah bin’ Amir al Juhani sebelumnya:

أَنَّ النَّهْي إِنَّمَا هُوَ عَمَّا لَا سَبَب لَهُ ؛ لِأَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بَعْد الْعَصْر رَكْعَتَيْنِ قَضَاء سُنَّة الظُّهْر ، فَخَصَّ وَقْت النَّهْي وَصَلَّى بِهِ ذَات السَّبَب ، وَلَمْ يَتْرُك التَّحِيَّة فِي حَال مِنْ الْأَحْوَال ، بَلْ أَمَرَ الَّذِي دَخَلَ الْمَسْجِد يَوْم الْجُمُعَة وَهُوَ يَخْطُب فَجَلَسَ أَنْ يَقُوم فَيَرْكَع رَكْعَتَيْنِ ، مَعَ أَنَّ الصَّلَاة فِي حَال الْخُطْبَة مَمْنُوع مِنْهَا إِلَّا التَّحِيَّة

“Sesungguhnya larangan tersebut adalah bersifat umum, jika dilakukan TANPA SEBAB. Justru Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah shalat setelah ashar sebagai qadha shalat sunah zhuhur. Maka larangan ini tidak berlaku jika shalat tersebut memiliki sebab, dan shalat tersebut tidaklah ditinggalkan dalam keadaan apapun. Bahkan Rasulullah pernah memerintahkan ketika beliau sedang khutbah Jumat kepada orang yang masuk ke masjid dan duduk, untuk melaksanakan shalat dua rakaat. Padahal, shalat ketika khutbah adalah terlarang, kecuali tahiyatul masjid (ada sebab).”

(Syarh Shahih Muslim, 5/226)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

وتختلف عن سائر الصلوات المفروضة، في أنه لا يشترط فيها الوقت، بل تؤدى في جميع الاوقات متى حضرت، ولو في أوقات النهي

“Shalat jenazah itu berbeda dengan semua shalat wajib lainnya, yakni dia tidak disyaratkan dilakukan pada waktu tertentu, bahkan dia boleh dilaksanakan di semua waktu sepanjang jenazah itu ada, walau di waktu dilarangnya shalat.” (Fiqhus Sunnah, 1/522)

Imam An Nawawi juga menegaskan kebolehan shalat jenazah setelah Ashar adalah ijma’. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 4/174)

Imam Abul Hasan al Mawardi menjelaskan bahwa tidak ada larangan berdasarkan ijma’, sebab para sahabat nabi pernah shalat jenazah setelah Ashar dan tidak yang mengingkari baik Anshar dan Muhajirin saat itu:

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : ” وَيُصَلَّى عَلَى الْجَنَائِزِ فِي كُلِّ وَقْتٍ ” .
قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ : وَهَذَا صَحِيحٌ ، الصَّلَاةُ عَلَى الْمَيِّتِ لَا يَخْتَصُّ بِهَا وَقْتٌ دُونَ وَقْتٍ ، وَلَا تُكْرَهُ فِي وَقْتٍ دُونَ وَقْتٍ ، وَيَجُوزُ فِعْلُهَا فِي الْأَوْقَاتِ الْمَنْهِيِّ عَنِ الصَّلَاةِ فِيهَا ، وَكَرِهَ أَبُو حَنِيفَةَ فِعْلَهَا فِي الْأَوْقَاتِ الْمَنْهِيِّ عَنِ الصَّلَاةِ فِيهَا ؛ بِنَاءً عَلَى أَصْلِهِ فِي الصَّلَوَاتِ الَّتِي لَهَا أَسْبَابٌ ، وَاسْتِدْلَالًا بِرِوَايَةِ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ : نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} أَنْ نُصَلِّيَ ثَلَاثَ سَاعَاتٍ ، وَأَنْ نَقْبُرَ فِيهَا مَوْتَانَا : حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَى تَرْتَفِعَ ، وَحِينَ تَقُومُ الظَّهِيرَةُ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ ، وَحِينَ تَصْفَرُّ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبُ ” . قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ : وَالدَّلَالَةُ عَلَيْهِ مَا قَدَّمْنَاهُ مَعَهُ مِنَ الْكَلَامِ فِي أَصْلِ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ ، ثُمَّ مِنَ الدَّلِيلِ عَلَى عَيْنِ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ : مَا رُوِيَ أَنَّ عَقِيلَ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَاتَ فَصَلَّى عَلَيْهِ الْمُهَاجِرُونَ وَالْأَنْصَارُ عِنْدَ اصْفِرَارِ الشَّمْسِ ، فَلَمْ يُعْلَمْ أَحَدٌ أَنْكَرَ ذَلِكَ فَكَانَ إِجْمَاعًا ، وَلِأَنَّهَا صَلَاةٌ لَهَا سَبَبٌ ، فَجَازَ فِعْلُهَا فِي جَمِيعِ الْأَوْقَاتِ كَالْمَفْرُوضَاتِ ، فَأَمَّا حَدِيثُ عُقْبَةَ فَلَا حُجَّةَ فِيهِ ، لِأَنَّهُ نَهَى عَنْ قَبْرِ الْمَوْتَى فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ ، وَذَلِكَ غَيْرُ مَمْنُوعٍ مِنْهُ إِجْمَاعًا .

“Berkata Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu: “Shalat terhadap jenazah dilakukan pada setiap waktu.”

Berkata Al Mawardi: “Ini benar, shalat terhadap mayit tidaklah khusus pada waktu tertentu saja tanpa waktu lainnya, dan tidak dimakruhkan melakukannya di waktu tertentu tanpa waktu lainnya, dan dibolehkan pula melaksanakannya pada waktu-waktu terlarang. Tetapi Abu Hanifah memakruhkannya jika dilakukan pada waktu-waktu terlarang shalat, termasuk shalat-shalat yang pada dasarnya memiliki sebab untuk dilaksanakan, dalilnya adalah riwayat dari ‘Uqbah bin Amir, dia berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kami shalat pada tiga waktu dan juga melarang menguburkan mayit pada waktu-waktu tersebut, yakni: ketika matahari benar-benar terbit hingga meninggi, ketika matahari tegak di atas hingga bergeser, dan ketika matahari bergerak terbenam hingga dia benar-benar terbenam.”

Berkata Al Mawardi: “Inilah dalil hukum asal masalah ini seperti yang telah kami sampaikan sebelumnya. Kemudian dalil khusus untuk masalah ini adalah telah diriwayatkan bahwa ‘Aqil bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu wafat, lalu dia dishalatkan oleh kaum muhajirin dan anshar ketika matahari menguning (bergerak terbenam, pen), dan tidak diketahui adanya seorang pun yang mengingkarinya, maka ini telah menjadi ijma’ (kesepakatan), dan shalat tersebut menjadi sebab (dalil) dibolehkannya. Maka dibolehkan melakukan (shalat jenazah) di semua waktu seperti shalat-shalat wajib, dan hadits dari ‘Uqbah bin Amir bukanlah alasan untuk melarangnya, karena itu merupakan larangan menguburkan ayat pada waktu-waktu tersebut. Dan hal ini (shalat jenazah) tidaklah dilarang berdasarkan ijma’. “

(Al Hawi Al Kabir, 3/95)

Pendapat yang MEMBOLEHKAN ini lebih kuat, karena kebolehan shalat di waktu terlarang JIKA ADA SEBABNYA terjadi berkali-kali di masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sahabat, dan tabi’in.

Dari Aisyah Radhiallahun ‘Anha:

رَكْعَتَانِ لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَعُهُمَا سِرًّا وَلاَ عَلاَنِيَةً: رَكْعَتَانِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ، وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ العَصْرِ

Dua rakaat yang Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkannya, baik secara diam-diam dan terang-terangan; yaitu dua rakaat sebelum shalat subuh, dan dua rakaat setelah shalat Ashar. (HR. Bukhari No. 592)

‘Atha bercerita:

أَنَّ عَائِشَةَ، وَأُمَّ سَلَمَةَ كَانَتَا تَرْكَعَانِ بَعْدَ الْعَصْرِ

Bahwa Aisyah dan Ummu Salamah shalat dua rakaat setelah ashar. (Abdurrazzaq, Al Mushannaf No. 3969)

Dari Ashim bin Abi Dhamrah bahwa Ali Radhiallahu ‘Anhu shalat dua rakaat setelah ashar di tendanya. (Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf No. 7352)

Hisyam bin Urwah bercerita:

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ ابْنِ الزُّبَيْرِ الْعَصْرَ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، فَكَانَ يُصَلِّي بَعْدَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ، وَكُنَّا نُصَلِّيهِمَا مَعَهُ نَقُومُ صَفًّا خَلْفَهُ

Kami shalat Ashar di masjidil haram bersama Abdullah bin Az Zubair, saat itu dia shalat dua rakaat setelah ashar. Kami shalat juga bersamanya dengan membuat shaf  dibelakangnya . (Abdurrazzaq, Al Mushannaf No.  3979)

Ibnu Aun bercerita, “Aku melihat Abu Burdah bin Abi Musa shalat dua rakaat setelah ashar.” (Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf No. 7347)

Selain Aisyah, Ali, Abdullah bin Az Zubeir Radhiallahu ‘Anhum, masih banyak lagi generasi tabi’in yang shalat dua rakaat setelah Ashar, seperti Abu Sya’tsa, Al Aswad bin Yazid, Amru bin Husein, Abu Wail, Masruq, Syuraih,  dan lainnya. (Lihat dalam Al Mushannaf Ibni Ab Syaibah No. 7347, 7348, 7350).

Demikian. Wallahu a’lam.

Konsultasi Terkait