Tradisi Menjelang Ramadhan, Bagaimana Hukumnya?

Pertanyaan  

Assalamualaikum wr.wb

Izin bertanya ustadz, kurang lebih 2 minggu lagi datang bulan Ramadhan. Menjelang Ramadhan banyak sekali tradisi di daerah seperti Padusan, Munggahan dlsb. Bagaimana hukum pelaksanaan tradisi tersebut dalam Islam?

Jawaban
Ustadz Farid Nu'man Hasan, SS., M.Sos

Waalaikumussalam wr.wb

Bismillahirrahmanirrahim…

Para salaf yaitu sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in mereka menyambut kedatangan Ramadhan dengan gembira. Hal itu merupakan aplikasi dari bergembira dengan karunia Allah Ta’ala, Sebagaimana firman-Nya:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا

“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira”. (QS.Yunus: 58)

Lalu, apa yang mereka lakukan untuk menyambut Ramadhan?

Imam Ibnu Rajab menceritakan bahwa kaum salaf menanti sejak enam bulan sebelum Ramadhan dengan berdoa:

عن المعلى بن فضل، كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان، ثم يدعونه ستة أشهر أن يتقبله منهم

Dari Mu’alli bin Fadhl: “Mereka berdoa kepada Allah enam bulan lamanya agar Allah menyampaikan mereka ke bulan Ramadhan, lalu mereka berdoa selama enam bulan agar Ramadhan mereka Allah terima.”

(Imam Ibnu Rajab, Lathaif Al Ma’arif, hal. 148)

Beberapa Doa yang banyak mereka baca, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu Rajab adalah sbb:

وقال يحيى بن أبي كثير كان من دعائهم، اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ لِيْ رَمَضَانَ، وَتُسَلِّمُهُ منّي مُتَقَبَّلاً

Yahya bin Abi Katsir berkata, bahwa diantara doa yang mereka panjatkan adalah, “Ya Allah sampaikanlah aku ke bulan Ramadhan. Dan jadikanlah bulan Ramadhan sampai kepadaku. Dan terimalah amal Ramadhan dariku.” (Ibid)

Imam Ibnu Rajab juga menceritakan doa lainya yang sering dibaca kaum salaf:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada Ramadhan.

Beliau berkata:

فَإِنَّ هَذَا الْإِسْنَادَ فِيهِ ضَعْفٌ وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ دَلِيلٌ عَلَى اسْتِحْبَابِ الدُّعَاءِ بِالْبَقَاءِ إِلَى الْأَزْمَانِ الْفَاضِلَةِ لِإِدْرَاكِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فِيهَا فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَزِيدُهُ عُمُرُهُ إِلَّا خَيْرًا وَخَيْرَ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Pada isnad hadits ini ada kelemahan, dan hadits ini terdapat DALIL bahwa hal yang disukai (sunnah) berdoa menjelang momen-momen yang yang memiliki keutamaan agar bisa mengisinya dengan amal shalih di dalamnya, dan seorang mukmin tidaklah bertambah usianya kecuali dengan berbuat baik, dan manusia terbaik adalah yang panjang usianya dan amalnya semakin baik.”

(Latha’if Al Ma’arif, hal. 155)

Tentunya ada hal lain yang perlu dipersiapkan seperti persiapan ruhiyah, ilmiyah (keilmuan), dan jasadiyah.

Ada pun tradisi yang terjadi di masyarakat, seperti padusan yaitu mandi atau bersih-bersih badan sebelum Ramadhan, tidak ada dalam sunnah. Hal ini jika dianggap bagian dari sunnah tentu bukan bagian dari sunnah, bukan ajaran agama yang terkait Ramadhan, namun jika sekedar ingin mandi saja sebagaimana mandi biasa sehari-hari tentu tidak masalah.

Ada pun munggahan, adalah tradisi makan-makan bersama keluarga atau kerabat sebelum masuk Ramadhan, adalah tradisi duniawi saja dan hukum asalnya adalah mubah. Bukan bagian dari agama, bukan bagian dari sunnah. Namun bukan hal terlarang selama tidak berlebihan, tidak dicampur maksiat, dan tidak menganggapnya sebagai paket yang include dengan Ramadhan.

Demikian. Wallahu A’lam