Melaksanakan acara Malam Nisfu Sya’ban, Apakah Bid’ah?

Pertanyaan  

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saya mau bertanya ustadz
Tentang kedudukan malam nisfu Sya’ban. Di lingkungan saya banyak yang melaksanakan acara malam nisfu Sya’ban di mushalla atau masjid. Tapi ada yang bilang bahwa itu bid’ah. Mana yang benar?

Jawaban
Ustadz Farid Nu'man Hasan, SS., M.Sos

Wa’alaikumussalam wr. wb.

Bismillahirrahmanirrahim..

Malam nisfu Sya’ban termasuk malam mulia. Berdasarkan hadits shahih berikut:

يطلع الله تبارك و تعالى إلى خلقه ليلة النصف من شعبان ، فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Allah Ta’ala menampakkan (rahmat)-Nya kepada hamba-hamba-Nya pada malam nishfu sya’ban, maka Dia mengampuni seluruh hambaNya, kecuali orang yang musyrik atau yang bermusuhan”

Hadits ini diriwayatkan dari banyak sahabat nabi yakni Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al Khusyani, Abdullah bin Amr, ‘Auf bin Malik, dan ‘Aisyah. Sehingga satu sama lain saling menguatkan. Oleh karena itu dinyatakan SHAHIH oleh:

– Syaikh al Albani.(Lihat As Silsilah Ash Shahihah, 3/135, No. 1144. Darul Ma’arif. Juga Shahih Jami’ Ash Shaghir wa Ziyadatuhu, 2/785)

– Syaikh Dr. Abdul Malik bin Abdullah Ad Duhaisy, ( Jami’ Al Masanid wa Sunan, No. 9697)

Oleh karenanya, mayoritas ulama mengatakan sunnahnya menghidupkan malam nisfu Sya’ban dengan berbagai ibadah. Tertulis dalam Al Mausu’ah:

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى نَدْبِ إِحْيَاءِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ …

Mayoritas ahli fiqih menganjurkan menghidupkan (dengan ibadah) malam Nishfu Sya’ban .. (Lalu disebutkan beberapa hadits tentang hal itu). (Al Mausu’ah, 2/236)

Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan:

ومن هذا الباب ليلة النصف من شعبان فقد روى في فضلها من الأحاديث المرفوعة والآثار ما يقتضي أنها ليلة مفضلة وأن من السلف من كان يخصها بالصلاة فيها وصوم شهر شعبان

Di antara pembahasan ini adalah tentang malam Nishfu Sya’ban. Telah diriwayatkan tentang keutamaannya baik dari hadits-hadits yang marfu’ dan atsar-atsarnya. Semua itu menunjukkan bahwa malam tersebut memang memiliki keutamaan.

Di antara generasi salaf ada yang mengkhususkan malam itu dengan shalat dan berpuasa pada bulan Sya’ban….. (lalu Beliau menyebut hadits-hadits yang dinilai dhaif para ulama)

Lalu berkata lagi:

لكن الذي عليه كثير من أهل العلم أو أكثرهم من أصحابنا وغيرهم على تفضيلها وعليه يدل نص أحمد لتعدد الأحاديث الواردة فيها وما يصدق ذلك من الآثار السلفية

Tetapi, yang dianut oleh mayoritas ulama atau mayoritas sahabat-sahabat kami (HANABILAH), dan selain mereka, bahwa malam Nishfu Sya’ban memiliki keutamaan, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad. Hal ini berdasarkan banyak hadits dan atsar para salafush shalih.

(Iqtidha Ash Shirath Al Mustaqim, Hal. 302)

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah juga mengatakan:

إذَا صَلَّى الْإِنْسَانُ لَيْلَةَ النِّصْفِ وَحْدَهُ أَوْ فِي جَمَاعَةٍ خَاصَّةٍ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ طَوَائِفُ مِنْ السَّلَفِ فَهُوَ أَحْسَن

Jika manusia shalat malam nishfu seorang diri atau jamaah secara khusus sebagaimana yang dilakukan beberapa golongan salaf, maka itu lebih baik. (Al Fatawa Al Kubra, 2/262)

Maka menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan aktivitas ibadah secara mutlak adalah sunnah, baik dengan tilawah, dzikir, shalawat, sedekah, shalat malam, dsb.

Lalu, Di Mana Titik Perselisihannya?

Para ulama berbeda pendapat tentang model dan bentuk atau cara menghidupkan malam tsb. Mereka sepakat menghidupkannya dengan ibadah, tapi mereka beda pendapat tentang mengkhususkan shalat dengan rakaat tertentu, membaca Al Quran secara khusus dan ayat khusus, dengan fadhilah khusus pula. Di sisi inilah perbedaannya.

Kelompok Pertama. Pihak yang menolak adanya shalat yang khusus di malam Nisfu Sya’ban.

Syaikh ‘Athiyah Shaqr Rahimahullah (mufti Mesir di masanya) menceritakan:

وقد أنكر ذلك أكثر العلماء من أهل الحجاز، منهم عطاء وابن أبى مليكة، ونقله عبد الرحمن بن زيد بن أسلم عن فقهاء أهل المدينة ، وهو قول أصحاب مالك وغيرهم ، وقالوا : ذلك كله بدعة

Perbuatan itu diingkari oleh mayoritas ulama di Hijaz seperti Atha’, Ibnu Abi Malikah, dan dikutip dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam bahwa fuqaha Madinah juga menolaknya, yakni para sahabat Imam Malik dan selain mereka, lalu mereka mengatakan: “Semua itu bid’ah!” (Fatawa Al Azhar, 10/131)

Begitu pula sebagian ulama Syam masa itu, Syaikh ‘Athiyah melanjutkan:

أنه يكره الاجتماع فى المساجد للصلاة والقصص والدعاء ، ولا يكره أن يصلى الرجل فيها لخاصة نفسه ، وهذا قول الأوزاعى إمام أهل الشام وفقيههم وعالمهم .

Bahwasanya dibenci (makruh) berjamaah di masjid untuk shalat, berkisah, dan berdoa pada malam itu, namun tidak mengapa jika seseorang shalatnya sendiri saja. Inilah pendapat Al Auza’i, imam penduduk Syam dan faqih (ahli fiqih)-nya mereka dan ulamanya mereka.” (Ibid)

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

وَبَيَّنَ الْغَزَالِيُّ فِي الإِْحْيَاءِ كَيْفِيَّةً خَاصَّةً لإِِحْيَائِهَا ، وَقَدْ أَنْكَرَ الشَّافِعِيَّةُ تِلْكَ الْكَيْفِيَّةَ 5وَاعْتَبَرُوهَا بِدْعَةً قَبِيحَةً ، وَقَال الثَّوْرِيُّ هَذِهِ الصَّلاَةُ بِدْعَةٌ مَوْضُوعَةٌ قَبِيحَةٌ مُنْكَرَةٌ

Imam Al Ghazali menjelaskan tata cara menghidupkan malam itu secara khusus, namun tata cara itu diingkari oleh Syafi’iyah dan menyebutnya sebagai bid’ah yang buruk. Ats Tsauri mengatakan bahwa shalat tersebut adalah bid’ah, palsu, dan buruk lagi munkar.

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/236)

Hal ini juga ditegaskan Imam an Nawawi berikut ini:

الصلاة المعروفة بصلاة الرغائب وهي ثنتى عشرة ركعة تصلي بين المغرب والعشاء ليلة أول جمعة في رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وهاتان الصلاتان بدعتان ومنكران قبيحتان ولا يغتر بذكرهما في كتاب قوت القلوب واحياء علوم الدين ولا بالحديث المذكور فيهما فان كل ذلك باطل

“Shalat yang sudah dikenal dengan sebutan shalat Ragha’ib yaitu shalat 12 rakaat yang dilakukan antara Maghrib dan Isya’, yakni malam awal hari Jumat pada bulan Rajab, dan shalat malam pada nishfu sya’ban seratus rakaat, maka dua shalat ini adalah bid’ah munkar yang buruk, janganlah terkecoh karena keduanya disebutkan dalam kitab Qutul Qulub dan Ihya Ulumuddin , dan tidak ada satu pun hadits yang menyebutkan dua shalat ini, maka semuanya adalah batil.” (Imam An Nawawi, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 4/56)

Kelompok Kedua. Pihak yang mendukung

Syaikh ‘Athiyah Saqr menjelaskan tentang Nisfu Sya’ban di masa tabi’in:

والصورة التى يحتفل بها الناس اليوم لم تكن فى أيامه ولا فى أيام الصحابة ، ولكن حدثت فى عهد التابعين . يذكر القسطلانى فى كتابه “المواهب اللدنية”ج 2 ص 259 أن التابعين من أهل الشام كخالد بن معدان ومكحول كانوا يجتهدون ليلة النصف من شعبان فى العبادة ، وعنهم أخذ الناس تعظيمها ، ويقال أنهم بلغهم في ذلك آثار إسرائيلية . فلما اشتهر ذلك عنهم اختلف الناس ، فمنهم من قبله منهم

Sedangkan aktifitas (ritual Nishfu Sya’ban) dengan gambaran yang dilakukan manusia saat ini, tidak pernah ada pada masa Rasulullah, tidak pernah ada pada masa sahabat, tetapi terjadi pada masa tabi’in.
Al Qasthalani menceritakan dalam kitabnya Al Mawahib Al Laduniyah (Juz.2, Hal. 259), bahwa tabi’in dari negeri Syam seperti Khalid bin Ma’dan, dan Mak-hul, mereka berijtihad untuk beribadah pada malam nishfu sya’ban. Dari merekalah manusia beralasan untuk memuliakan malam nishfu sya’ban. Diceritakan bahwa telah sampai kepada mereka atsar israiliyat tentang hal ini. Ketika hal tersebut tersiarkan, maka manusia pun berselisih pendapat, lalu di antara mereka ada yang mengikutinya. (Fatawa Al Azhar, 10/131)

Beliau juga berkata:

أنه يستحب إحياؤها جماعة فى المسجد، وكان خالد بن معدان ولقمان ابن عامر وغيرهما يلبسون فيها أحسن ثيابهم ويتبخرون ويكتحلون ويقومون فى المسجد ليلتهم تلك ، ووافقهم إسحاق بن راهويه على ذلك وقال فى قيامها فى المساجد جماعة : ليس ذلك ببدعة، نقله عنه حرب الكرمانى فى مسائله

Dianjurkan menghidupkan malam tersebut dengan berjamaah di masjid, Khalid bin Mi’dan dan Luqman bin ‘Amir, dan selainnya, mereka mengenakan pakain bagus, memakai wewangian, bercelak, dan mereka menghidupkan malamnya dengan shalat. Hal ini disepakati oleh Ishaq bin Rahawaih, dia berkata tentang shalat berjamaah pada malam tersebut: “Itu bukan bid’ah!” Hal ini dikutip oleh Harb al Karmani ketika dia bertanya kepadanya tentang ini.

(Fatawa Al Azhar, 10/131)

Imam Al Fakihi Rahimahullah (wafat 272 H) bercerita bahwa penduduk Mekkah menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan berkumpul di masjidul haram membaca Al Quran sampai khatam, shalat 100 rakaat, dan membacakannya ke air zam-zam:

ذِكْرُ عَمَلِ أَهْلِ مَكَّةَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَاجْتِهَادِهِمْ فِيهَا لِفَضْلِهَا وَأَهْلُ مَكَّةَ فِيمَا مَضَى إِلَى الْيَوْمِ إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، خَرَجَ عَامَّةُ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَصَلَّوْا، وَطَافُوا، وَأَحْيَوْا لَيْلَتَهُمْ حَتَّى الصَّبَاحَ بِالْقِرَاءَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، حَتَّى يَخْتِمُوا الْقُرْآنَ كُلَّهُ، وَيُصَلُّوا، وَمَنْ صَلَّى مِنْهُمْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ مِائَةَ رَكْعَةٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِالْحَمْدُ، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ، وَأَخَذُوا مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ، فَشَرِبُوهُ، وَاغْتَسَلُوا بِهِ، وَخَبَّؤُوهُ عِنْدَهُمْ لِلْمَرْضَى، يَبْتَغُونَ بِذَلِكَ الْبَرَكَةَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ، وَيُرْوَى فِيهِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ

Amalan penduduk Mekkah pada malam Nishfu Sya’ban dan kesungguhan mereka beribadah karena keutamaan malam tersebut. Penduduk Mekkah dari dulu sampai hari ini, jika datang malam Nishfu Sya’ban, maka mayoritas laki-laki dan perempuan keluar menuju Masjidil Haram, mereka shalat, thawaf, dan menghidupkan malam itu sampai pagi dengan membaca Al Quran di Masjidil Haram sampai mengkhatamkan semuanya, dan mereka shalat, di antara mereka ada yang shalat malam itu 100 rakaat dan pada tiap rakaatnya membaca Al Fatihah dan Al Ikhlas 10 kali, lalu mereka mengambil air zam zam malam itu, lalu meminumnya, mandi dengannya, dan juga menyembuhkan orang sakit dengannya, dalam rangka mencari keberkahan pada malam tersebut. (Akhbar Makkah, 3/84)

Wal hasil, para salaf sepakat keutamaan malam Nishfu Sya’ban dan menghidupkannya dengan ibadah. Tapi, mereka berbeda pendapat dalam hal hai’ah (bentuk) dan tata caranya. Tentunya kaum muslimin hendaknya berlapang dada atas perbedaan ini sebagaimana menyikapi perbedaan persoalan fiqih lainnya.

Demikian. Wallahu a’lam

Konsultasi Terkait