Siap Berpuasa Secara Paripurna

Pointer Khutbah Juma’t 1442 H (Seri 43)

Tema : Siap Berpuasa Secara Paripurna

Penulis : KH. Dr. Surahman Hidayat, MA.

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الَّذِى فَرَضَ عَلَيْنَا صِيَامَ رَمَضَانَ لِنَكُونَ مِنَ الصَّابِرِينَ وَالْمُتَّقِين  أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ . وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الصَّادِق الْوَعْد الْأَمِين   

فَاللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ  عَلَيْه وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ حَامِلِى الْغُرِّ الْمُحَجَّلِينَ

 أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ آمِنُوا بِرَبّكُمْ وَاتَّقُوهُ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُون

Jamaah jumu’ah rahimakimullah!

Aroma wangi bulan shiyam Ramadhan makin semerbak. Kita menghirupnya dengan rasa syukur dan suka cita.  Ayat perintah puasa Ramadhan sudah mengiang-ngiang  di hari-hari pekan ini. Dari satu menjadi dua doa yang relevan untuk menyambut bulan agung.

Pertama

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahi kami di Sya’ban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.”

Kedua :

اَللَّهُمَّ سَلِّمْناَ إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لَنَا رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِناَّ مُتَقَبَّلا

“Ya Allah, antarkanlah kami ke bulan Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepada kami, dan terimalah amal-amal kami di bulan Ramadhan.” 

Doa tambahan untuk kemantapan persiapan bagus dipanjatkan. Semoga pola persiapan untuk menjalani Ramadhan yang paripurna bisa dijadikan sebagai pola ta’ziziah  dan tarqiah (peningkatan) bagi ketakwaan dan kesalehan yang menyeluruh.

Allah Swt berfirman memanggil hamba-hamba-Nya yang mempunyai perasaan iman di dada. Sebagai cara untuk mengetes apakah imannya ada dan hidup.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS al–Baqarah: 183).

Sebagaimana maklum upaya realisasi takwa melalui dua jalur ketaatan. Jalur imtitsal; yakni melaksanakan semua perintah pada senua tingkatannya. Dan jalur intihaa; yakni  meninggalkan dan menjauhi semua larangan-Nya. Demikian penjelasan umum dan standar. Realisasi pada level satu dapat  menggugurkan kewajiban.

Untuk menuju tangga takwa di atasnya, level kedua mampu menambal bolong-bolong dan celah dalam penunaian kewajiban  dan menjauhi larangan. Yaitu dengan mengerjakan sunnah-sunnah muakkadah. Seperti sunnah rawatib, qabliah ba’diyah. Usahakan selengkap mungkin. Berikutnya adalah level tiga. Yaitu diisi dengan  nawafil. Ibadah sunnah yang muthlaqah berupa  ruang bebas untuk berkompetisi guna mengumpulkan poin yang banyak dan berkualitas.  Ini sesusi dengan arahan  hadits qudsi muttafaq alaih;

وما يزالُ عبدي يتقرَّبُ إليَّ بالنَّوافلِ حتَّى أُحبَّه

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal tambahan (yang dianjurkan dalam Islam) sehingga Aku mencintainya.”

Agar Allah tidak murka, level satu dan dua dari jalur takwa niscaya ditunaikan. Sedangkan untuk meraih cinta Allah, harus menempuh level ketiga; yakni mengerjakan nawafil, baik bentuknya shalat, qiyam, tilawatil quran, sedekah, silaturahim maupun memasukkan hal yang menyenangkan dan manfaat dalam hati seorang mukmin.

Di tangga meningkat dalam beribadah, Rasulullah mengajarkan level dibatasnya. Yaitu level syukur sebagai bentuk motivasi dan aktualisasi.  Adalah sabda beliau

أَفَلاَ أكُونَ عبْداً شكُوراً

“Apakah aku tidak boleh menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”

Hal itu menggambarkan betapa beliau memperbanyak ibadah nawafil. Dengan memperbanyak dan berlama-lama melakukan shalat nawafil dan qiraah. Cara yang berdampak pada fisik beliau

 حَتىَّ تَتَوَرَّمَ قَدَمَاه

“hingga kaki beliau menjadi bengkak”

Itu beliau lakukan karena rasa syukur atas berbagai karunia Allah.

Dalam arasy idealita ibadah dan maksimasi takwa, Imam Al Ghazali menyebutkan empat level  takwa di jalur “intiha” menyetop  dan  menjauhi maksiat  berupa larangan (muharramat). Berikutnya level menghindari syubuhat. Lalu level tiga menghindari makruhat (hal yang boleh tapi memberi mudharat atau tidak memberi manfaat). Serta level keempat adalah menghindari “fudhulul mubahat” (hal-hal yang mubah tetapi tidak efisien di mana jumlah yang dikonsumsi melebihi kebutuhan, sehingga ada pemborosan yang mendorong pemubaziran sumber daya).

Hal Ini tidak sesuai dengan arahan Nabi saw,

مَا عَالَ مَنْ اقْتَصَدَ مَا عَالَ مَنْ اقْتَصَدَ

“Tidak akan jatuh miskin orang yang berhemat.”(HR Ahmad)

Bahkan berlawanan dengan arahan  al Quran,

وَٱلَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS al-Furqan: 67)

Itulah pola upaya ketakwaan ibadurrahman. Rasulullah saw menghasung para shaimin (mereka yang berpuasa) agar memprogram shiyam ramadhan ini dengan pola ibadurrahman yang nyaris mengantarkan ke maqam para muttaqin.

لا يَبْلُغُ العبدُ أنْ يكونَ من المتقينَ حتى يَدَعَ ما لا بَأسَ بِهِ، حَذَرًا مِمَّا به بَأسٌ

“Seorang hamba tidak akan sampai masuk ke dalam golongan orang-orang bertakwa, hingga ia meninggalkan perkara yang boleh (namun berlebih) untuknya, guna tidak terjerumus ke dalam yang haram.” (HR at-Tirmidzi dan Ibn Majah)

Puasa pola ibadurrahman insya Allah mengantar pada kesyukuran meraih kemenangan. Menang dalam mengelola serta mengendalikan hawa nafsu sebagai inti puasa ” al-imsak“. Entah nafsu bahimiyah, nafsu sabu’iyah ataupun nafsu syaithaniyah.

Allah berfirman,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ  فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS an-Nazi’at: 40-41)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah  II

إنَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَن وَالَاه  وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّة إلاَّ بالله

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ .

اَللَّهُم سَلَّمْنَا وَالْمُسْلِمِين وَعَافِنَا وَالْمُسْلِمِين وَأَكْفِنَا وَإِيَّاهُم مِنْ شَرِّ مَصَائِب الدُّنْيَا وَالدِّينِ

وَاللهُمّ اكْشِفْ عَنَّا الْبَلاَء وَالوَبَاء وَكُورُونَا مِنْ بِلاَدِنَا خاَصَّة وَمِنْ بُلْدَانِ الْعَالَم عَامَّة بَلْ مِنَ العَالَمِين

‎ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . وَآخِر دَعْوَانَا أَن الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Unduh File PDF